Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Aquino: Filipina Bukan Lagi Si Penyakitan dari Asia

Presiden Filipina Benigno Aquino menolak anggapan sejumlah pihak yang mengkhawatirkan adanya potensi ekonomi overheating di Filipina. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi tahunan melebihi 7% di tengah resiko gelembung aset.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 20 Februari 2014  |  22:39 WIB
Presiden Filipina Benigno Aquino  - bisnis.com
Presiden Filipina Benigno Aquino - bisnis.com

Bisnis.com, MANILA — Presiden Filipina Benigno Aquino menolak anggapan sejumlah pihak yang mengkhawatirkan adanya potensi ekonomi overheating di Filipina. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi tahunan melebihi 7% di tengah resiko gelembung aset.

“Bank sentral telah melakukan upaya stabilisasi terkait inflasi dan aset. Pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh di kisaran 6,5%-7,5% pada 2014, setelah sempat terakselerasi 7,2% pada tahun lalu,”ungkapnya di Manila, Kamis (20/2/2014).

Menurutnya, Filipina sepenuhnya telah keluar dari sebutan “Si Penyakitan dari Asia” menyusul akselerasi ekonomi beberapa tahun terakhir. Ekspansi ekonomi yang lebih cepat, katanya, cukup dibutuhkan untuk mengurangi angka kemiskinan dan tingginya angka pengangguran.

Bahkan, perekonomian Filipina masih tetap melaju tanpa perlu mengkhawatirkan inflasi yang berlebihan. Pasalnya, permintaan yang tinggi atas properti perumahan dan ruangan kantor cukup tinggi menopang perekonomian Filipina, sekaligus kebutuhan yang tinggi untuk menciptakan sebanyak mungkin lapangan pekerjaan.

“Masih banyak hal yang harus dilakukan saat ini. Tingginya permintaan harus disesuaikan dengan kapasitas pasokan yang ada, termasuk backlog perumahan murah sekitar US$4 juta,”tambahnya.

Meskipun begitu, dirinya meyakinkan pihaknya akan melakukan upaya proaktif dan berusaha untuk mengontrol aktifitas spekulatif.

Data Bloomberg menunjukkan periode 2012-2013 merupakan masa keemasan bagi Filipina.  Ekonomi Filipina tumbuh menembus rekor tercepat sejak 1954-1955.

Bangko Sentral ng Pilipinas tetap menjaga suku bunga acuan rendah sejak Oktober 2012, bahkan ketika inflasi mencapai puncak dua tahun tertinggi dan pasokan uang tunai tumbuh 30% per bulan dari Juli hingga Desember.

Tullett Prebon Plc. menyatakan peso anjlok 0,3% menjadi 44,78 per dollar pada 10.24 a.m di Manila menyusul tiga hari pelemahan. Indeks Philippine Stock Exchange terlihat menguat menjadi 3 bulan tertinggi.

Sejumlah analis termasuk Michael Wan dari Credit Suisse Group AG Singapura memperingatkan Filipina akan adanya potensi tekanan pada ekonomi. Ekonomi Filipina berisiko terjerembab layaknya yang dialami Indonesia 2 tahun yang lalu.

MULAI MEMANAS

Wan mengemukakan Indonesia menunda kebijakan pengetatan moneter di tengah melonjaknya pertumbuhan likuiditas dan harga properti. Indonesia, tambahnya, menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada 2012 bahkan ketika pertumbuhan ekonomi melampaui 6%.

“Ekonomi Filipina mulai memanas, jika otoritas pembuat kebijakan tidak jeli mengamati potensi tersebut maka Filipina akan mengalami apa yang Indonesia pernah rasakan dua tahun lalu,”ucapnya.

Menurutnya, mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter terlalu lama dan resiko pengenduran ekonomi setelah ekspansi ekonomi terlalu tinggi adalah dua resiko yang harus dicermati oleh Filipina.

Berdasarkan data Bloomberg, pertumbuhan pasokan uang di kawasan Asia Tenggara terhitung lebih dari tiga kali lipat dari Malaysia dan Thailand.

Sebelumnya, Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Amando Tetangco sempat mengemukakan tingginya pertumbuhan ekonomi tidak perlu dikhawatirkan. “Tingkat suku bunga acuan juga akan kembali pada posisi normal yaitu 12%-14% pada tahun ini,”tambahnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aquino ekonomi filipina
Editor : Fatkhul-nonaktif
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top