Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Sentral di Asia Serempak Tahan Suku Bunga, Ini Alasannya

Beberapa bank sentral di Asia pada Kamis (12/12) serempak memutuskan untuk tidak mengubah level suku bunga mereka dari ketetapan pada pertemuan sebelumnya
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 13 Desember 2013  |  08:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Beberapa bank sentral di Asia pada Kamis (12/12) serempak memutuskan untuk tidak mengubah level suku bunga mereka dari ketetapan pada pertemuan sebelumnya.

Sebut saja Bangko Sentral ng Pilipinas, Bank of Korea, dan Bank Indonesia, yang masing-masing mempertahankan suku bunga dengan alasan yang berbeda.

Sementara Filipina menahan bunga pada rekor terendah, Indonesia justru membiarkannya pada level tertinggi. Bank sentral Filipina mempertahankan bunga deposito overnight pada level 3,5% selama 9 pertemuan berturut-turut guna mendorong pemulihan ekonomi pascabencana Topan Haiyan. Padahal, tekanan inflasi di Negara tersebut kian menguat.

Filipina tumbuh pada fase paling lambat kuartal III/2013 dan pemerintah memprediksi dampak Haiyan akan terus memukul ekonomi hingga paruh pertama 2014.

Bank sentral menaikkan proyeksi inflasi 2014-2015, selagi Presiden Benigno Aquino merekonstruksi lokasi bencana yang akan memakan waktu 4 tahun.

“Tekanan inflasi yang terjadi saat ini sifatnya hanya sementara, didorong oleh masalah suplai. Lingkungan kebijakan yang akomodatif akan menopang pemulihan dan rehabilitasi setelah bencana baru-baru ini,” ujar Jeff Ng, ekonom Standard Chartered Plc seperti dilaporkan Harian Bisnis Indonesia, Jumat (13/12/2013).

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan Filipina untuk 2013-2014, setelah lajunya menyentuh 7% kuartal lalu dari tahun sebelumnya. Proyek rekonstruksi Aquino menelan anggaran 150 miliar peso setara US$3,4 miliar hingga 2014, sehingga berimbas terhadap belanja, pendapatan, dan target defisit 2014.

Sementara itu, Korsel menahan suku bunga repo berjangka 7 hari pada level 2,5% sejak Mei. Gubernur BOK Kim Chong Soo mengatakan inflasi yang mencapai rekor terendah dalam14 tahun akan memberi ruang bagi pe mulihan.

Korsel tengah meng hadapi apre siasi nilai tukar won ke level tertingginya terhadap yen sejak 2008. Hal itu meng ancam daya saing eks portir Korsel terhadap rival mereka di Jepang.

“Depresiasi yen membebani banyak eksportir Korea karena Jepang adalah rival kunci mereka dalam pasar global,” jelas Park Sang Hyun, Kepala Ekonom HI Investment & Securities, sebagaimana dikutip Bloomberg.

Dia mengatakan jika Jepang melakukan stimulus moneter lebih agresif lagi sehingga yen kian terjun bebas, hal itu akan menahan pertumbuhan Korea. Aki batnya, BOK terpaksa melakukan pelonggaran moneter lebih jauh.

REKOR TERTINGGI

Kasus berbeda terjadi di Indonesia, di mana BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 7,5%, yang tertinggi dalam lebih dari 4 bulan terakhir. BI juga mempertahankan Fasbi Rate pada level 5,75%.

Gubernur Agus Martowardojo telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sejak awal Juni, di tengah upaya penyempitan transaksi berjalan yang menjadikan rupiah sebagai nilai tukar dengan performa terburuk di Asia tahun ini.

 

Selengkapnya baca di Harian Bisnis Indonesia edisi Jumat (13/12/2013) atau di  http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?IdCateg=20131213174#

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia bank dunia BI Rate Suku Bunga bank sentral as

Sumber : Bisnis Indonesia (13/12/2013)

Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top