Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

1 Dari 3 Anak Tak Miliki Akte Kelahiran

Hampir 230 juta anak yang berusia di bawah lima tahun tak memiliki catatan resmi kelahiran mereka, sehingga mereka tak memperoleh pendidikan, perawatan kesehatan dan jaminan sosial, kata Dana Anak PBB (UNICEF), Rabu (11/12/2013).
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 12 Desember 2013  |  10:01 WIB
1 Dari 3 Anak Tak Miliki Akte Kelahiran
Bagikan

Bisnis.com, NEW YORK - Hampir 230 juta anak yang berusia di bawah lima tahun tak memiliki catatan resmi kelahiran mereka, sehingga mereka tak memperoleh pendidikan, perawatan kesehatan dan jaminan sosial, kata Dana Anak PBB (UNICEF), Rabu (11/12/2013).

Itu sama dengan satu dari tiga dari seluruh anak yang berusia di bawah lima tahun dan tak terdaftar atau tak memiliki bukti pendaftaran, kada badan PBB tersebut di dalam laporan yang disiarkan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-67.

Laporan itu, yang berjudul "Every Child's Birth Right: Inequities and trends in birth registration", mengumpulkan analisis statistik dari 161 negara dan menyajikan data negara yang paling akhir tersedia serta perkiraan tentang pendaftaran kelahiran.

Secara global pada 2012, tulis Antara yang mengutip Xinhua-OANA- hanya sebanyak 60% dari semua bayi yang dilahirkan didaftarkan saat dilahirkan. Angka tersebut beragam di seluruh wilayah; tingkat paling rendah pendaftaran kelahiran ditemukan di Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika.

Menurut UNICEF, 10 negara dengan tingkat pendaftaran kelahiran paling rendah adalah Somalia (3%), Liberia (4%), Ethiopia (7%), Zambia (14%), Chad (16%), Republik Persatuan Tanzania (16%), Yaman (17%), Guinea-Bissau (24%), Pakistan (27%) dan Republik Demokratik Kongo (28%).

Anak-anak yang tak didaftarkan saat dilahirkan atau tanpa dokumen pengenal seringkali tak memiliki akses ke pendidikan, perawatan kesehatan dan jaminan sosial, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Jika anak-anak terpisah dari keluarga mereka selama bencana alam, konflik atau akibat eksploitasi, menyatukan mereka kembali jadi pekerjaan sulit akibat tak-adanya dokumentasi resmi.

"Pendaftaran kelahiran lebih sekedar hak. Itu adalah cara masyarakat pertama kali mengakui keberadaan dan identitas anak," kata Geeta Rao Gupta, Wakil Direktur Pelaksana UNICEF. Ia menambahkan pendaftaran itu juga adalah kunci "untuk menjamin bahwa anak-anak tidak dilupakan, ditolak hak mereka atau disembunyikan dari kemajuan negara mereka." Bahkan ketika anak didaftarkan, satu dari tujuh anak tak memiliki sertifikat kelahiran fisik sebagai bukti pendaftaran, katanya.

"Semua anak dilahirkan dengan potensi yang sangat besar. Namun jika masyarakat gagal memperhitungkan mereka, dan bahkan tak mengakui bahwa mereka ada, mereka lebih rentan untuk diabaikan dan mengalami pelecehan," kata Geeta Rao Gupta. "Tak bisa dielakkan, potensi mereka akan sangat terkikis." Pendaftaran kelahiran bukan hanya membantu anak-anak dan keluarga mereka, tapi juga negara dan masyarakat secara keseluruhan. Selain memberi sumbangan pada pendaftaran sipil negara, pendaftaran kelahiran juga memperkuat kualitas statistik penting, membantu perencanaan dan efisiensi pemerintah, kata UNICEF.

Di antara alasan orang tua tidak mendaftarkan kelahiran anak mereka, kata penulis laporan itu ialah biaya, penghalang budaya dan kekhawatiran terhadap diskriminasi atau disingkirkan,


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

akte kelahiran
Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top