Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Sentral Kirim Sinyal Pelemahan Dolar Australia

RBA mempertahankan suku bunga pada rekor rendah 2,5% selama dua pertemuan berturut-turut, dengan mempertimbangkan dampak pemangkasan dini bagi perekonomian dan prospek ekonomi global.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 29 Oktober 2013  |  22:01 WIB

Bisnis.com, SYDNEY - Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Glenn Stevens mengatakan level mata uang Negeri Kanguru akan melemah karena tidak didukung oleh biaya dan produktivitas ekonomi serta volume perdagangan negara itu kemungkinan besar akan anjlok.
 
“Pasar valuta asing mungkin adalah area lain yang harus diperhatikan para investor. Kemungkinan, pada beberapa titik di masa depan, dolar Australia akan lebih rendah secara material dibandingkan dengan saat ini,” ujarnya, Selasa (29/10).
 
RBA mempertahankan suku bunga pada rekor rendah 2,5% selama dua pertemuan berturut-turut, dengan mempertimbangkan dampak pemangkasan dini bagi perekonomian dan prospek ekonomi global.
 
Stevens mengatakan pertumbuhan China akan tetap tinggi dan AS kemungkinan akan pulih. Dolar AS juga telah melunak setelah Federal Reserve memutuskan untuk melanjutkan program stimulusnya pertengahan bulan lalu.
 
“Akan menjadi kesalahan besar jika kami bersantai terlalu lama akibat penundaan [tapering] ini. Tentu saja tapering akan datang [cepat atau lambat],” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi australia

Sumber : Bloomberg

Editor : Yusran Yunus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top