Mengenang Sosok Sukamdani S. Gitosardjono: Bersama Istri Jadi Contoh Pasangan Harmonis

Kalau kita lihat hubungan ibu dan bapak sangat indah dan harmonis sampai usia senja selalu berdua. Pengusaha sukses tapi tidak berlebihan atau sombong. Memimpin dunia usaha sangat baik. Jadi contoh dan panutan.
Saeno | 21 Desember 2017 13:59 WIB
Sukamdani Sahid dan Juliah Sukamdani - Jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita punya kesan mendalam tentang harmonisnya hubungan almarhum Sukamdani S. Gitosardjo dengan istinya,

"Kalau kita lihat hubungan ibu dan bapak sangat indah dan harmonis sampai usia senja selalu berdua. Pengusaha sukses tapi tidak berlebihan atau sombong. Memimpin dunia usaha sangat baik. Jadi contoh dan panutan," tutur Enggar soal harmonisnya hubungan Sukamdani dengan sang istri.

Sukamdani memulai bisnis dari nol bersama sang istri, Juliah. Ayahnya, Raden Sahid Djogosentono, adalah mantan bekel, setingkat lurah atau kepala desa di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sementara ibunya, Sadinah, adalah istri kedua dari Sahid. Mereka memiliki empat anak yang masing-masing diberinya nama Sujoto, Sugito (Sukamdani), Sri Sukamtini, dan Sugijem.

Beranjak dewasa, Sukamdani merantau ke Jakarta dan menikahi Juliah, putri dari trah Mangkunegaran Surakarta.

Ia sempat bekerja di Kementerian Dalam Negeri, tetapi mengundurkan diri setelah dua bulan karena merasa gaji yang diperoleh saat itu Rp400 per bulan, kurang mencukupi.

Pada 1953, nasib membawanya bekerja pada NV Harapan Masa, milik Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Perusahaan ini sedang membangun percetakan, dan Sukamdani diberi jabatan sebagai Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan dengan gaji pertama Rp750 per bulan. Setelah bekerja hampir 3 tahun di Harapan Masa, Sukamdani memutuskan untuk merintis usaha sendiri.

Dalam otobiografinya Sejarah Perjalanan Hidup Meraih Prestasi, Wujud Sebuah Bakti, disebutkan ia mendirikan usaha kecil-kecilan dengan modal awal 2 orang; Sukamdani dan Juliah.

Modal berikutnya adalah simpanan yang digabung dengan tabungan istri. Uang tersebut dibelikan dua buah mesin cetak yang digerakkan dengan tangan, buatan dalam negeri seharga Rp3.800. Usaha kecil-kecilan itu dijalankan di rumah Jalan Sudirman, Jakarta–kini Hotel Grand Sahid Jaya.

Bersama istri, Sukamdani rela naik-turun opelet ke Jalan Tiang Bendera untuk membeli kertas.

Ia pula yang mengantar dan menjemput pesanan, termasuk menagih biaya cetak. Pasangan ini membuktikan bahwa kerja keras merupakan bibit dari kesuksesan.

Usaha percetakan–CV Masyarakat Baru, berubah menjadi PT Tema Baru—adalah embrio dari konglomerasi Grup Sahid. Kelak, Tema Baru tetap eksis dalam usaha percetakan yang dikelola oleh Grup Bisnis Indonesia, salah satu usaha yang didirikan Sukamdani bersama sejumlah pengusaha lain seperti Ciputra, Eric Samola, dan Soebronto Laras.

Cikal-bakal usaha percetakan yang merambah perdagangan umum ini memberikan modal bagi upaya diversifikasi bisnis sektor perhotelan, pariwisata, pendidikan, pertanian, konstruksi, tekstil, hingga perkebunan.

Bersama istri, Sukamdani memberi teladan soal keharmonisan dan saling dukung untuk membangun kesuksesan dan berbuat baik kepada banyak orang.

Sumber : bisnis.com

Tag : sukamdani s. gitosardjono
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top