Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Begini 7 Kemiripan Modus Kejahatan Gatot Brajamusti & Dimas Kanjeng

Dua kasus menggegerkan masyarakat baru-baru ini yakni skandal Gatot Brajamusti dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Kedua sama-sama menggunakan padepokan untuk kegiatan yang ternyata menjurus kriminal.
Gatot Brajamusti (kiri) dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi/Repro
Gatot Brajamusti (kiri) dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi/Repro

Kabar24.com, JAKARTA - Dua kasus menggegerkan masyarakat baru-baru ini yakni skandal Gatot Brajamusti dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Kedua sama-sama menggunakan padepokan untuk kegiatan yang ternyata menjurus kriminal.

Gatot selama ini dikenal sebagai guru spiritual para selebritas dan pengusaha. Biduanita Reza Artamevia dan aktris Elma Theana pernah menjadi murid Gatot di Padepokan Brajamusti. Setelah tertangkapnya Gatot untuk kasus penggunaan narkotik oleh Kepolisian Resor Mataram, terungkap pula dugaan praktek ritual seks yang dilakukannya selama ini. Dia disebut memperdayai korban dengan sabu-sabu, kemudian melakukan pesta seks.

Adapun Dimas Kanjeng Taat Pribadi dituduh melakukan penipuan uang dan pembunuhan santrinya. Modus penipuan yang dilakukan Taat adalah penggandaan uang. Kepada polisi, Taat mengaku bisa menggandakan uang dengan ilmu yang dimilikinya. Namun Taat gagal menunjukkan keahlian itu di hadapan polisi. Dia mengaku kegagalannya disebabkan jin yang membantunya telah pergi karena terkena gas air mata yang ditembakkan polisi saat penangkapan dirinya.

Ada sejumlah kemiripan dari dua kasus itu antara lain:

1. Mengandalkan kultus individu
Akademikus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, menjelaskan mengenai maraknya kasus dugaan penipuan dan pelecehan berkedok agama, seperti yang dilakukan Gatot Brajamusti dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi merupakan sebuah gejala kultus.

"Ini disebut sebagai kultus yang dipimpin con man (penipu), orang yang menyalahgunakan kepercayaan orang lain kepadanya," kata Azyumardi kepada Tempo, Kamis, 29 September 2016.

Azyumardi menjelaskan, pengkultusan masih terjadi di masyarakat karena terjadi krisis karakter. Banyak yang menempuh jalan instan dalam menyelesaikan masalah, seperti utang piutang, ambisi politik, dan jabatan.

2. Memanfaatkan kepintaran bicara
Azyumardi juga mengatakan muncul penipu atau con man dengan menciptakan kultus untuk membangun kharisma melalui penampilan, kepintaran berbicara, dan retorika menggunakan argumentasi agama. "Membuat orang-orang tersebut percaya atau taklid buta sehingga merasa yakin dengan hal-hal yang too good to be true, seperti menggandakan uang," ujarnya.

Azyumardi menambahkan, solusi yang bisa dilakukan untuk menangani hal itu adalah penindakan hukum yang tegas kepada pemimpin kultus yang melakukan penipuan dan pelecehan seksual. Juga, pendidikan karakter sejak dini yang dimulai dari keluarga untuk pemahaman agama yang benar tentang apa yang perlu diimani. "Apa-apa yang perlu menggunakan akal sehat," tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : tempo.co
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper