Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese merespons pengumuman kebijakan Amerika Serikat terkait tarif 10% yang dikenakan atas barang-barang negaranya.
Albanese mengatakan kebijakan AS tentang tarif 10% atas barang-barang dari negaranya adalah keputusan yang buruk. Dia juga menambahkan bahwa pihaknya tidak akan menanggapi kebijakan itu dengan tarif balasan.
"Langkah-langkah yang diungkapkan oleh Presiden Donald Trump bukanlah tindakan seorang teman," kata Albanese kepada wartawan di Melbourne pada Kamis (3/4/2025) dikutip dari Bloomberg.
Albanese juga menegaskan bahwa Australia tidak memiliki tarif atas produk-produk Amerika. Tarif tersebut merupakan bagian dari penerapan tarif global terhadap mitra dagang AS di seluruh dunia.
"Tarif yang ditetapkan pemerintah tidak memiliki dasar logika, dan bertentangan dengan dasar kemitraan kedua negara kita. Keputusan hari ini akan menambah ketidakpastian dalam ekonomi global, dan akan menaikkan biaya bagi rumah tangga Amerika," lanjutnya.
Dia menuturkan, Australia tidak akan mengambil tindakan melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahap ini. Albanese memaparkan serangkaian tindakan sebagai tanggapan atas pengumuman tersebut, termasuk bantuan senilai 50 juta dolar Australia (US$31,2 juta) untuk industri yang terdampak.
Menanggapi pengumuman AS, Albanese mengatakan Australia akan memperkuat rezim antidumpingnya, menyediakan jutaan dukungan untuk sektor-sektor yang terdampak, dan membuat misi dagang untuk mendiversifikasi mitra ekspornya. Selain itu, Australia juga akan membuat cadangan mineral strategis yang penting.
Trump secara khusus menyebutkan ekspor daging sapi Australia ke AS selama konferensi persnya di Gedung Putih saat mengumumkan tarif, dengan mengatakan bahwa meskipun warga Australia adalah "orang-orang yang luar biasa dan memiliki segalanya yang luar biasa", mereka tidak cukup membeli produk AS.
Meskipun ada kekhawatiran awal di kalangan industri pertanian Australia, Albanese mengatakan tidak akan ada larangan ekspor daging sapi ke AS, dengan industri tersebut sebagai gantinya menghadapi tarif tetap sebesar 10%.
Daging sapi merupakan salah satu ekspor terbesar Australia ke AS, dengan penjualan hampir 400.000 ton tahun lalu, menurut Meat & Livestock Australia. Keputusan Trump gagal mengakui peran penting ekspor dalam menstabilkan pasokan dan harga AS, kata Ketua Dewan Penasihat Daging Merah Australia John McKillop.
“Daging sapi Australia diperkirakan dikonsumsi dalam 6 miliar hamburger setiap tahun di AS dan tarif ini akan membebani konsumen AS tambahan US$180 juta per tahun,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Australia, yang berada di tengah-tengah kampanye pemilihan yang ketat menjelang pemungutan suara pada tanggal 3 Mei, adalah salah satu sekutu tertua Washington dan mengalami defisit perdagangan dengan AS.
Trump sangat tidak disukai di Australia bahkan sebelum pengumuman tarif, dengan 60% pemilih menganggap kemenangan pemilihannya sebagai hal yang buruk bagi negara tersebut, menurut jajak pendapat Redbridge.
Pemimpin oposisi Peter Dutton mengatakan pengumuman tarif tersebut bukanlah perlakuan yang pantas diterima warga Australia, dengan menunjukkan bahwa kedua negara telah berjuang bersama dalam berbagai konflik selama seabad terakhir.
Kekhawatiran bahwa tarif besar-besaran Trump dapat melemahkan ekonomi global dan potensi kerusakan lebih lanjut karena pungutan tambahan menghantam China, pembeli utama ekspor komoditas Australia, juga berdampak pada pasar lokal.
Dolar Australia terpantau merosot lebih dari 1% pada perdagangan awal, yang merupakan mata uang dengan kinerja terburuk di antara mata uang pasar maju utama, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun turun paling tajam sejak Juli.