Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jumlah Korban Tewas Gempa Myanmar Bertambah Jadi 2.719 Orang

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Myanmar telah mencapai 2.719 jiwa dan diperkirakan bakal melampaui 3.000 orang.
Petugas penyelamat bekerja di lokasi bangunan yang runtuh setelah gempa bumi dahsyat melanda Myanmar bagian tengah pada hari Jumat (28/3/2025)-REUTERS/Athit Perawongmetha
Petugas penyelamat bekerja di lokasi bangunan yang runtuh setelah gempa bumi dahsyat melanda Myanmar bagian tengah pada hari Jumat (28/3/2025)-REUTERS/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Myanmar telah mencapai 2.719 jiwa dan diperkirakan akan melampaui 3.000 orang di tengah desakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan bantuan kepada korban sebelum musim hujan yang semakin dekat.

Melansir Reuters pada Rabu (2/4/2025), Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB untuk Myanmar Marcoluigi Corsi mengatakan, air minum, kebersihan, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan merupakan kebutuhan paling kritis menyusul kerusakan parah pada bangunan, jalan, dan jembatan akibat gempa Myanmar.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen untuk menjangkau orang-orang di Myanmar yang membutuhkan bantuan.

"Dan kami harus bertindak cepat untuk memberikan bantuan sebelum musim hujan tiba, yang tentu saja akan memperburuk krisis yang mengerikan ini," jelasnya.

Perang saudara di Myanmar telah menyebabkan lebih dari 3 juta orang mengungsi jauh sebelum gempa terjadi. Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Julie Bishop mendesak semua pihak untuk segera menghentikan tembakan, mengizinkan akses kemanusiaan, dan memastikan pekerja bantuan aman.

"Melanjutkan operasi militer di daerah yang terkena bencana berisiko menimbulkan lebih banyak korban jiwa," katanya dalam pernyataan tersebut.

Kelompok bantuan di Myanmar memperingatkan bahwa peluang untuk menemukan korban selamat semakin menipis.

Penguasa militer Myanmar Min Aung Hlaing mengatakan jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter pada hari Jumat mencapai 2.719 hingga Selasa pagi dan diperkirakan akan melampaui 3.000. Sekitar 4.521 orang terluka dan 441 orang hilang.

"Di antara yang hilang, sebagian besar diperkirakan sudah meninggal. Peluang mereka untuk tetap hidup sangat kecil," katanya dalam sebuah pidato.

Gempa bumi, yang terjadi pada jam makan siang Jumat (28/3/2025) lalu, merupakan gempa terkuat yang melanda negara Asia Tenggara tersebut dalam lebih dari satu abad. 

Gempa tersebut merobohkan pagoda kuno dan bangunan modern serta menimbulkan kerusakan signifikan di kota kedua Myanmar, Mandalay dan Naypyitaw, ibu kota yang dibangun khusus oleh junta sebelumnya sebagai benteng yang tidak dapat ditembus.

Badan-badan PBB mengatakan rumah sakit kewalahan dan upaya penyelamatan terhambat oleh kerusakan infrastruktur dan perang saudara. 

Pemberontak menuduh militer melakukan serangan udara bahkan setelah gempa bumi. Pada Selasa (2/4/2025) kemarin aliansi pemberontak di negara tersebut mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk membantu upaya bantuan. 

Gempa bumi tersebut merupakan yang terbaru dalam serangkaian guncangan bagi negara berpenduduk 53 juta orang itu setelah kudeta pada 2021 yang mengembalikan militer ke tampuk kekuasaan dan menghancurkan ekonomi setelah satu dekade pembangunan dan demokrasi yang tentatif. 

Militer Myanmar telah dituduh melakukan kekejaman yang meluas terhadap warga sipil saat berjuang untuk memadamkan pemberontakan multi-cabang setelah kudeta. Militer telah menepis tuduhan tersebut sebagai informasi yang salah dan mengatakan bahwa mereka melindungi negara dari teroris. 

Di negara tetangga Thailand, jumlah korban tewas akibat gempa bumi meningkat menjadi 21 pada Selasa, dengan ratusan bangunan rusak. Tim penyelamat terus mencari kehidupan di reruntuhan gedung pencakar langit yang runtuh yang sedang dibangun di ibu kota Bangkok, tetapi mengakui bahwa waktu tidak berpihak kepada mereka.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper