Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Medan Perang Baru di Timur Tengah: Iran Vs Israel

Eskalasi antara Iran dan Israel bisa memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah yang sering dilanda peperangan.
Asap membumbung setelah Israel diduga menyerang bangunan yang dekat dengan kedutaan besar Iran di Damaskus, Suriah, 1 April 2024./Reuters
Asap membumbung setelah Israel diduga menyerang bangunan yang dekat dengan kedutaan besar Iran di Damaskus, Suriah, 1 April 2024./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Tensi antara Iran dan Israel terus memanas. Iran meluncurkan puluhan pesawat nirawak alias drone dan rudal ke wilayah pendudukan Israel. Serangan ini merupakan babak baru dalam konflik di Timur Tengah, dimana Iran akhirnya turun langsung menyerang Israel.

Selama ini konflik antara Iran dan Israel berlangsung secara tidak langsung. Iran melibatkan proksi militernya seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman, untuk menekan musuh-musuhnya, salah satunya Israel.

Iran terpaksa turun ke gelanggang setelah pesawat tempur Israel secara sepihak menyerang kantor kedutaan besar Iran di Damaskus, Suriah. Serangan Israel terhadap pihak Iran di Suriah sejatinya bukan yang pertama, namun aksi Israel pada awal April lalu itu membuat Iran berang. Rezim Zionis dianggap telah mengangkangi konvensi Wina, hukum internasional sekaligus melanggar kedaulatan Iran karena telah menyasar misi diplomatik Iran di Suriah.

Segera setelah serangan tersebut, ancaman retaliasi alias balas dendam Iran kepada Israel terus bergaung. Tensi di wilayah Timur Tengah kian panas. Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, yang beberapa kali terlibat perang urat syaraf dengan Iran berupaya menenangkan situasi. Namun misi itu gagal. Iran tetap berupaya untuk membalas serangan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, mengatakan bahwa serangan terhadap gedung konsulat Iran di Damaskus dilakukan dengan pesawat dan rudal buatan AS. Dia bersumpah untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku penyerangan tersebut.

Ancaman Iran tersebut membuat Barat kalang kabut. Prancis, misalnya, telah memperingatkan Prancis telah memperingatkan warganya untuk menghindari wilayah Iran, Israel, Lebanon dan Palestina. 

Sementara itu, Jerman memperingatkan warganya untuk meninggalkan Iran, dengan menyatakan bahwa ada risiko peningkatan ketegangan secara tiba-tiba antara Iran dengan Israel. 

Pemerintah Jerman juga menyatakan bahwa warga Jerman mungkin akan berisiko ditangkap secara sewenang-wenang di negara tersebut. “Dalam ketegangan saat ini, terutama antara Israel dan Iran, ada risiko peningkatan yang tiba-tiba."

Adapun Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperingatkan bahwa Teheran tidak akan berhasil jika mengambil tindakan militer untuk membalas serangan Israel baru-baru ini ke konsuler Kedutaan Besar Iran di Suriah.

Biden meminta Iran untuk tidak menggunakan kekerasan, dan mengatakan "jangan" saat ditanyai terkait hal yang ingin dia sampaikan ke Iran. "Kami mengabdikan diri untuk membela Israel. Kami akan mendukung Israel. Kami akan membantu membela Israel dan Iran tidak akan berhasil," kata Biden di Gedung Putih.

Hari Pembalasan

Iran meluncurkan sekelompok drone peledak dan menembakkan rudal ke Israel dalam serangan langsung pertamanya ke wilayah Israel, pada Sabtu malam (13/4/2024). 

Sirene meraung-raung di Israel dan media lokal melaporkan mendengar bunyi ledakan dari kejauhan, yang disebut sebagai intersepsi udara terhadap drone yang meledak. 

Melansir Reuters, setelah drone yang menuju ke Israel meledak, layanan ambulans mengatakan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun terluka parah. 

Militer Israel mengatakan lebih dari 100 drone diluncurkan dari Iran, dan sumber keamanan di Irak dan Yordania melaporkan 10 drone terlihat berterbangan di langit, dan para pejabat AS mengatakan militernya telah menembak jatuh beberapa drone tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengatakan dalam pidatonya bahwa Israel telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk kemungkinan serangan langsung dari Iran, pada Minggu (14/4/2024). 

Netanyahu menyampaikan pidatonya terkait serangan Iran tersebut dalam sebuah video yang diunggah di X, sesaat sebelum Iran mulai menembakkan drone ke Israel.

"Warga Israel, dalam beberapa tahun terakhir dan terlebih lagi dalam beberapa minggu terakhir, Israel telah bersiap menghadapi kemungkinan serangan langsung dari Iran. Sistem pertahanan kami dikerahkan.  Kami siap menghadapi skenario apapun baik secara defensif maupun ofensif," katanya Melansir Bloomberg pada Minggu (14/4/2024). 

Dia mengeklaim Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kuat serta menghargai Amerika Serikat (AS) yang berdiri di sisi Israel, serta dukungan dari Inggris, Prancis, dan negara lainnya. 

Adapun Benjamin mengungkapkan prinsip mereka bahwa siapapun yang menyerang akan diserang kembali. Menurutnya dia akan mempertahankan diri dari setiap ancaman dan akan melakukannya dengan tenang dan penuh tekad. 

"Saya tahu bahwa Anda warga Israel, juga tetap tenang. Saya mendorong Anda untuk mendengarkan arahan dari Komando Front Depan. Bersama-sama kita akan berdiri, dan dengan pertolongan Tuhan, bersama-sama kita akan mengalahkan semua musuh kita," jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Edi Suwiknyo
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper