Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Biden Suntik Rp5 Triliun Proyek Daur Ulang Baterai di New York

Anak perusahaan Li-Cycle Holdings Corp. di Amerika Serikat mendapat tawaran pinjaman US$375 juta atau setara Rp5 triliun dari pemerintahan Joe Biden.
Presiden AS Joe Biden berbicara dalam pidato kenegaraan di Gedung Kongres AS pada Selasa (7/2/2023)./Bloomberg-Nathan Howard
Presiden AS Joe Biden berbicara dalam pidato kenegaraan di Gedung Kongres AS pada Selasa (7/2/2023)./Bloomberg-Nathan Howard

Bisnis.com, JAKARTA - Anak perusahaan Li-Cycle Holdings Corp. di Amerika Serikat (AS) mendapat tawaran pinjaman senilai US$375 juta atau setara Rp5 triliun dari pemerintahan Joe Biden untuk perluasan pabrik daur ulang baterai lithium-ion di New York.

Departemen energi menjelaskan bahwa pinjaman bersyarat tersebut akan membantu membiayai perluasan fasilitas pertama di Rochester yang mendaur ulang baterai lithium-ion lama menjadi bahan kimia yang dapat digunakan untuk baterai lebih dari 200.000 kendaraan listrik per tahun.

Melansir Bloomberg, Senin (27/2/2023), pendanaan dari Program Pinjaman Manufaktur Kendaraan Teknologi Canggih itu sejalan dengan program Gedung Putih ke depannya yaitu setengah dari semua penjualan kendaraan pada 2030 harus bebas emisi.

Hal ini juga mengikuti komitmen senilai US$2 miliar yang diumumkan awal bulan ini kepada pembuat komponen baterai EV dan pendaur ulang baterai lithium-ion, Redwood Materials Inc.

Departemen Energi menjelaskan dengan mendukung ekonomi sirkular untuk bahan-bahan penting, proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan AS pada rantai pasokan global atau penambangan baru.

"Bahan-bahan penting yang membentuk baterai EV memiliki permintaan yang tinggi dan bisa jadi sulit untuk didapatkan," jelas Departemen Energi AS.

Proyek Li-Cycle akan menggunakan teknik yang disebut daur ulang hidrometalurgi untuk memulihkan lithium karbonat, kobalt sulfat, nikel sulfat, dan bahan penting lainnya dari bahan sisa produksi dan baterai bekas, kata Departemen Energi.

Adapun, dukungan pemerintah untuk proyek ini datang saat pemerintah berusaha menciptakan rantai pasokan baterai dalam negeri.

Permintaan untuk lithium, yang juga digunakan untuk penyimpanan jaringan dan senjata, diproyeksikan akan melebihi produksi saat ini pada 2030. AS bergantung pada pasar internasional untuk memproses sebagian besar bahan baku, menurut departemen tersebut. 

"Saat ini, beberapa negara mengendalikan sebagian besar rantai pasokan daur ulang baterai global, dengan China mendominasi pasar pemurnian lithium karbonat. Li-Cycle mengharapkan fasilitasnya menjadi sumber pertama lithium karbonat kelas baterai daur ulang di Amerika Utara," ungkap Departemen Energi AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper