Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Setahun Perang Rusia-Ukraina, Toyota hingga Samsung Pilih Hengkang dari Rusia

Ratusan perusahaan yang berbasis di Asia, mulai dari Jepang, India dan Korsel pilih hengkang dari Rusia. Beberapa merk di antaranya Toyota hingga Samsung.
Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat di layar selama pidato tahunannya di Majelis Federal, di Sevastopol, Krimea, 21 Februari 2023. REUTERS/Alexey Pavlishak
Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat di layar selama pidato tahunannya di Majelis Federal, di Sevastopol, Krimea, 21 Februari 2023. REUTERS/Alexey Pavlishak

Bisnis.com, JAKARTA - Genap Satu tahun perang Rusia-Ukraina berkecamuk, Chief Executive Leadership Institute (CELI) Yale School of Management mencatat ada 100 perusahaan yang berbasis di Asia telah menangguhkan atau mengurangi operasi mereka di Rusia. Perusahan-perusahaan raksasa macam Toyota hingga Samsung memilih hengkang dari Negri Beruang Merah itu. 

Jepang sendiri menyumbang lebih dari separuh perusahaan Asia yang telah mengurangi eksposur ke Rusia, diikuti oleh beberapa perusahaan lain yang berasal dari China, India, dan Korea Selatan.

Jepang yang sudah menjadi sekutu dekat Amerika Serikat juga terlibat dalam sejumlah sengketa teritorial dengan Rusia, di mana merek terkenal secara global seperti Toyota, Sony, Nissan, dan Nintendo termasuk di antara 50 perusahaan Jepang yang telah keluar dari Rusia sembari mengurangi operasinya sebagai bentuk sanksi terhadap pejabat dan entitas Rusia.

Di Korea Selatan, ada lima perusahaan telah mengumumkan penangguhan operasi perusahaan di Rusia, seperti Samsung dan Hyundai.

Lalu, di China dan India sendiri hanya 12 perusahaan yang meninggalkan Rusia imbas invasi Ukraina termasuk Bank of China dan Tata Steel.

Menariknya, justru beberapa brand besar asal China dan India lainnya seolah tidak ambil pusing akan masalah ini bahkan meningkatkan impor energi Rusia, seperti produsen mobil India Bajaj Auto, raksasa teknologi China Alibaba dan Didi, di mana sampai saat ini mereka masih menolak mengutuk atau menjatuhkan sanksi pada Rusia. 

Sedangkan, Singapura, Malaysia, dan Vietnam masih terus mempertahankan gerakan non blok untuk terus menjaga kedaulatan negara antara Timur dan Barat, sehingga hanya memiliki lima perusahaan di antavra mereka yang secara terbuka berusaha menjauhkan diri dari Rusia.

Pendiri dan Kepala Eksekutif Fusionbrand, Konsultan Branding di Kuala Lumpur, Malaysia Marcus Osborne mengatakan sikap ambivalen yaitu suatu perasaan yang bercabang antara mencintai sekaligus membenci suatu kondisi secara bersamaan, mencerminkan suatu negara enggan berlama-lama untuk terlibat dalam konflik di luar negeri.

“Ini hanya permasalahan budaya yang enggan terlibat dalam urusan negara lain - terutama ketika itu sangat jauh dalam geografis, ideologis dan lainnya. Mereka mungkin berpikir jika kita terlibat, bagaimana jika ada konflik di wilayah kita, apakah itu berarti mereka bisa terlibat di sini?” katanya.  

Profesor Perdagangan di Universitas Delhi, Sumati Varma dan Rajeev Upadhayay turut mengatakan bahwa wilayahnya lebih fokus pada pemulihan ekonomi dan tekanan biaya hidup setelah pandemi daripada situasi di Ukraina.

“Ketika lingkungan global pasca-pandemi menyebabkan depresi ekonomi terburuk dalam beberapa dekade, maka negara akan berusaha merespons dengan menggabungkan masalah kelangsungan hidup domestik dengan masalah sosial dan etika,” jelasnya.

Bagi dia, saat ini konflik telah memperburuk krisis global karena harga pangan, minyak, dan pupuk meroket di seluruh dunia, memperumit masalah domestik di banyak negara Asia

Di sisi lain, Konsultan Merek yang berbasis di Singapura Martin Roll mengatakan merek-merek Asia tidak menghadapi tekanan yang sama seperti perusahaan asal Barat lainnya.

"Sebagian perusahaan Asia tentu menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam membangun merek dan citra yang hebat, maka langkah untuk hengkang dinilai memberikan banyak risiko kehilangan posisi di pasar dalam sekejap,” kata Roll.

Menurutnya, beberapa perusahaan Asia mengalami sejumlah keraguan untuk terlibat dalam isu-isu yang tidak terkait dengan isu-isu yang dekat dengan agenda Asia. Apalagi, melihat budaya Asia yang cenderung kurang terlibat dalam urusan orang lain.

Dia pun menambahkan pertimbangan wilayah Timur dan Barat menjadi penentu seberapa besar relevansi konflik terhadap suatu wilayah.

“Rusia dalam banyak hal lebih jauh dari Asia. Ketika Rusia disebut-sebut menjadi agenda di Asia, itu kebanyakan tentang masalah energi dan perdagangan daripada masalah Perang Dingin yang mendalam dan ingatan masyarakat kolektif, ” katanya dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (25/2/2023).

Oleh karena itu, perang di Ukraina lebih jauh ke Asia secara agregat. Bukan berarti Asia dan Asia tidak melihatnya atau tidak peduli, perangnya dirasa masih jauh. Ada banyak konflik di dunia, dan perang di Ukraina menjadi salah satunya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper