Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Setahun Perang, Orang Rusia di Georgia Hidup Tidak Tenang

Sebagian orang Georgia tak menyukai pendatang baru dari Rusia, mengingat sejarah terkini. Pada 1990-an, Moskow mendukung separatis di wilayah Georgia.
Seorang prajurit Ukraina dari Brigade Serangan Udara ke-80 membawa peluru untuk dimuat ke dalam senjata artileri Howitzer M119 untuk ditembakkan ke arah pasukan Rusia, di tengah serangan Rusia ke Ukraina, dekat Bahmut, wilayah Donetsk, Ukraina, 16 Februari 2023. REUTERS/Marko Djurica
Seorang prajurit Ukraina dari Brigade Serangan Udara ke-80 membawa peluru untuk dimuat ke dalam senjata artileri Howitzer M119 untuk ditembakkan ke arah pasukan Rusia, di tengah serangan Rusia ke Ukraina, dekat Bahmut, wilayah Donetsk, Ukraina, 16 Februari 2023. REUTERS/Marko Djurica

Sangat Tak Ramah

"Ada beberapa dari mereka yang sangat radikal, atau mungkin bukan radikal, tapi orang-orang yang pada umumnya tidak ramah terhadap orang asing, dan yang menghindari kami," kata Gleb Kuznetsov, seorang pengusaha asal St Petersburg, Rusia.

Kuznetsov mengatakan toko kerajinannya telah menjadi sasaran ulasan negatif di Google. Bahkan pintu tokonya ditutupi stiker anti-Rusia.

Sebagian orang Georgia tak menyukai pendatang baru dari Rusia, mengingat sejarah terkini.

Pada 1990-an, Moskow mendukung separatis di wilayah Georgia, tepatnya Abkhazia dan Ossetia Selatan. Pemerintah Rusia mengusir populasi etnis Georgia di kawasan itu.

Pada tahun 2008, perang singkat antara Georgia dengan Rusia terkait status wilayah yang telah memisahkan diri memperkuat kerenggangan kedua negara. Bahkan, sekitar 280.000 warga Georgia jadi pengungsi di negara mereka sendiri, menurut laporan PBB pada 2021.

Ribuan warga Rusia yang sekarang tinggal di Tbilisi kini membuat perkumpulan sendiri, entah di bar, toko, dan kafe. Sedikit penduduk lokal yang datang ke tempat usaha iyu. Bahkan, bahasa nasional Georgia jadi jarang digunakan di lokasi itu.

Di sisi lain, bahasa Rusia juga kurang digunakan secara luas di Georgia daripada di negara-negara bekas Uni Soviet lainnya. Ini memperkuat perpecahan antara para imigran dan penduduk asli yang sudah lama bermukim.

Kireev menuturkan dia sedang belajar bahasa Georgia, meski mengaku kurang dari 10 persen pelanggannya adalah warga Georgia.

"Sangat sulit, karena kami tidak tahu bahasa Georgia, kami mencoba mempelajarinya. Tapi karena kendala bahasa ini, cukup sulit untuk bersosialisasi," jelasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper