Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Protes Lockdown Meluas! Warga China Minta Xi Jinping Mundur

Aksi demo terjadi di sejumlah kota-kota di China untuk memprotes aturan lockdown Covid-19. Warga meminta Presiden China Xi Jinping mundur.
Khadijah Shahnaz Fitra
Khadijah Shahnaz Fitra - Bisnis.com 28 November 2022  |  08:55 WIB
Protes Lockdown Meluas! Warga China Minta Xi Jinping Mundur
Para petugas medis bersiap menyambut kedatangan warga negara asing yang hendak disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama di bilik-bilik semipermanen yang didirikan di areal Museum Chaoyang Park, Beijing, China, Selasa (23/3/2021). - Antara\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat di kota-kota di seluruh China saat ini memprotes kebijakan pembatasan atau lockdown setelah kasus Covid-19 melonjak. Protes ini pun merupakan protes terbesar yang dihadapi China sejak Presiden China Xi Jinping menjabat.

Dilansir dari The Guardian, Senin (28/11/2022) protes terjadi di beberapa kota-kota termasuk Shanghai, Beijing, Chengdu, Wuhan dan Guangzhou, menurut rekaman yang dibagikan di media sosial.

Protes yang dilakukan masyarakat berujung pada serangkaian kekerasan dan penangkapan demonstran pada Sabtu (26/11/2022) malam. Pada Senin (28/11/2022) dini hari di Beijing, dua kelompok pengunjuk rasa yang berjumlah setidaknya 1.000 orang berkumpul di sepanjang Jalan Lingkar ke-3 ibu kota China dekat Sungai Liangma, menolak untuk bubar.

Hal ini pun menunjukan tingkat keputusasaan masyarakat China atas peraturan lockdown Covid-19. Sementara itu, di Shanghai, masyarakat menyerukan pencopotan partai Komunis dan Xi Jinping.

Masyarakat yang melakukan aksi protes meneriakkan “Partai Komunis! Mengundurkan diri! Xi Jinping! Mengundurkan diri!"

Menariknya, masyarakat China biasanya menahan diri untuk tidak mengkritik partai dan pemimpinnya di depan umum karena takut akan pembalasan.

Adapun, pada Jumat (25/11/2022) lalu, protes juga terjadi di Urumqi , ibu kota regional di wilayah Xinjiang barat. Protes ini dikarenakan adanya rekaman kebakaran di sebuah bangunan tempat tinggal yang menewaskan sedikitnya 10 orang sehari sebelumnya menyebabkan tuduhan bahwa lockdown Covid-19 adalah faktor yang menyebabkan banyaknya jumlah korban tewas dalam insiden tersebut.

Pejabat Urumqi tiba-tiba mengadakan konferensi pers pada Sabtu untuk menyangkal lockdown Covid-19 telah menghambat pelarian dan penyelamatan.

Di Shanghai, kota terbesar di China dan pusat keuangan global, kerumunan orang kembali ke Jalan Urumqi Tengah. Polisi menutup jalan untuk lalu lintas non-lokal dan melakukan penangkapan, menurut video online. Sebuah foto yang dengan cepat menjadi viral pada Minggu malam yang menunjukkan polisi mencopot rambu jalan Middle Urumqi Road.

Pada Minggu malam, seorang jurnalis BBC terlihat di depan kamera "dipukuli dan ditendang oleh polisi" sebelum ditangkap di kota tersebut. Rekaman di media sosial menunjukkan Edward Lawrence diseret ke tanah dengan borgol, sedangkan dia terlihat berkata di video lain "Hubungi konsulat sekarang."

Seorang juru bicara BBC mengatakan “BBC sangat prihatin dengan perlakuan terhadap jurnalis kami Ed Lawrence, yang ditangkap dan diborgol saat meliput protes di Shanghai.

"Dia ditahan selama beberapa jam sebelum dibebaskan," kata juru bicara itu. Dia mengatakan bahwa Lawrence telah meliput protes sebagai jurnalis terakreditasi.

Lawrence, seorang jurnalis senior dan operator kamera untuk biro BBC China, men-tweet dari tempat protes di Shanghai pada Minggu pagi waktu Inggris.

Dia menulis “Saya berada di lokasi protes anti zero Covid-19 yang luar biasa tadi malam di Shanghai. Banyak orang berkumpul disini dengan tenang menonton. Banyak polisi."

Pada hari Sabtu, orang-orang di Shanghai meneriakkan "Tidak ada tes PCR, kami menginginkan kebebasan!" diikuti dengan seruan berulang-ulang untuk “Kebebasan! Kebebasan!"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 china xi jinping Lockdown
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top