Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Toneel Club Kelimutu: Jalan Perjuangan Soekarno dalam Pengasingan di Ende

Berkesenian menjadi satu jalan yang dipilih Bung Karno untuk tetap memelihara semangat perjuangan dalam diri sendiri dan kemudian mengobarkannya pada orang lain
Albertus Agung Moa Padji dan Oktaviano Donald
Albertus Agung Moa Padji dan Oktaviano Donald - Bisnis.com 31 Oktober 2022  |  18:36 WIB
Toneel Club Kelimutu: Jalan Perjuangan Soekarno dalam Pengasingan di Ende
Warga beraktivitas di kawasan Taman Renungan Bung Karno, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis - Suselo Jati.
Bagikan

“Dalam segala hal Ende di pulau Flores yang terpencil itu merupakan ujung dunia bagiku.”

Demikian kalimat yang digunakan Soekarno, menurut penuturan Cindy Adams, untuk mengungkapkan sepinya Ende, sebuah kota di pesisir selatan Pulau Flores.

Seperti diketahui, Sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia ditangkap dan diputuskan menjalani masa pembuangan oleh pemerintahan Kolonial Belanda di Ende Flores sejak tahun 1934-1938.

Tak hanya melukiskan terpencilnya Ende, pengakuan itu ternyata juga menggambarkan kesepian mendalam yang dialami Soekarno dalam keterasingannya.

Fatma Wati, dalam Toneel Club Kelimutu: Perjuangan Kemerdekaan Sukarno dari Ende Flores 1934-1938, mengungkapkan peristiwa pembuangan ke Ende menyebabkan Soekarno kehilangan pamor.

“Massa yang dahulu selalu beramai-ramai mendengarkan pidatonya berganti dengan pengasingan yang jauh dari gegap gempita massa. Soekarno yang dikenal sebagai singa podium yang berapi-api ketika berpidato di depan massa di Jawa merasa begitu putus asa dan kehilangan semangat,” tulisnya dalam Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora Vol. 5, No. 1, April 2021.

Rumah Bung Karno

Foto udara Rumah Pengasingan Bung Karno di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Pada awal kedatangannya, jelas Fatma Wati, Soekarno menyadari bahwa tidak ada masyarakat yang mau berinteraksi dengannya. Posisinya sebagai tahanan politik dan interniran membuat gerakannya diintai dan dimatai oleh tentara Belanda.

Hal itu juga diakui oleh Dalbo, salah seorang warga Ende. Berdasarkan penuturan kakeknya, Dalbo mengatakan Soekarno selalu diikuti oleh mata-mata kolonial ke mana pun pergi.

“Ada orang yang mengikuti sekitar 100 atau 150 meter di belakang Soekarno. Ke mana pun dia pergi,” jelasnya kepada tim Jelajah Sinyal 2022.

Namun, Soekarno lambat laun mulai berkawan dengan orang lokal Ende. Menurut Cindy Adams, Bung Karno mulai mendekati rakyat jelata yang dalam pandangannya mereka terlalu sederhana untuk memikirkan politik.

Rumah Bung Karno


Wisatawan berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Pelan-pelan, Soekarno yang ramah dan pandai berkawan menemukan sahabat yang bersedia membantunya. Mereka ini juga yang akhirnya mendukung Soekarno dalam mewujudkan idenya membentuk klub sandiwara yang juga menjadi upayanya mengobarkan semangat perjuangan walaupun tanpa massa dalam keterasingannya.

Dengan dukungan penuh keluarganya, Fatma Wati mengungkapkan Soekarno mendirikan klub sandiwara bernama Toneel Club Kelimutu.

Toneel secara etimologis berasal dari kata yang berarti drama dalam bahasa Belanda, sedangkan Kelimutu merujuk pada danau tiga warna yang ada di Ende.

“Pada hari-hari pertama di Flores itu adalah tempat penyiksaan. Aku memerlukan suatu pendorong atau aku akan membunuh diriku sendiri. Begitulah kondisiku ketika aku mulai menulis naskah sandiwara,” demikian Fatma Wati mengutip paparan Cindy Adams dalam jurnal tersebut.

Bung Karno

Warga beraktivitas di kawasan Taman Renungan Bung Karno, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati.


Toneel Club Kelimutu

Cindy Adams memerinci bahwa Bung Karno menulis 12 naskah selama pengasingan di Ende. Namun, Soekarno disebut tidak memerinci judul-judul naskah sandiwara.

“Hanya karya pertama yang berjudul Dr. Sjaitan saja yang diceritakan,” tulis Fatma Wati.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Fatma Wati pada arsip surat yang berasal dari Ikatan Buruh Pantjasila wilayah XXIII di Ende yang ditujukan kepada Ketua Ikatan Petani Pantjasila di Jokjakarta pada tanggal 17 April 1963, tentang nasib sahabat-sahabat Soekarno di Ende yang masih hidup pada saat itu, menyebutkan bahwa ada 12 naskah sandiwara yang ditulis sendiri oleh Sang Proklamator.

Ke-12 naskah tersebut adalah: Dr. Sjaitan, Tahun 1945, Rahasia Kelimutu, Rendo Rate Rua (Don Louis Parera Kumi Toro), Julagubi, Aero Dinamit, Kutkubi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah, Siang Hai Rumba, Nggera, Ende, dan Pengaruh Tanah Air.

“Semua naskah sandiwara ditulis dengan ‘nafas’ yang sama yakni membawakan pesan moral perjuangan untuk meraih kemerdekaan,” tulis Fatma Wati.

Rumah Bung karno

Ruang tamu yang kini memajangkan petilasan Soekarno di situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Namun, inisiatif Soekarno untuk membentuk Toneel Club Kelimutu dan menyelenggarakan pementasan sandiwara bukan perkara mudah.

Dalam jurnalnya, Fatma Wati mengutip sejumlah sumber yang menunjukkan tantangan yang dihadapi Bung Karno. Pertama terkait literasi masyarakat Ende.

Pada masa itu, tidak banyak masyarakat lokal yang mengenyam pendidikan atau tahu baca tulis huruf latin. Dengan begitu, para pemain sandiwara tidak bisa membaca dan belum fasih berbahasa Indonesia.

Alhasil, Soekarno harus membacakan sendiri dialog yang akan para pemeran ucapkan di panggung nanti.

“Kesulitannya sangat besar. Ali Pambe yang berperan sebagai seorang penerjemah dari bahasa Ende ke bahasa Indonesia, tetapi Ali yang buta huruf ini belum fasih berbahasa Indonesia sehingga aku harus mengajarinya dulu,” demikian keterangan Soekarno ke Cindy Adams.

Rumah Bung Karno

Sumur yang digali Soekarno bersama para sahabat di halaman belakang Rumah Pengasingan Bung Karno di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati

Tantangan kedua adalah kurangnya biaya pendukung. Hal ini dideskripsikan oleh Djae Bara salah seorang sahabat Soekarno di Ende. “Dengan uang pas-pasan yang mereka kumpulkan bersama sebanyak dua puluh tujuh sen kemudian Sukarno mulai membuat beberapa cerita yang dapat menarik hati rakyat.”

Bahkan, Soekarno harus mengambil berbagai peran dalam pementasan Sandiwara. “Dia yang membuat ceritanya, dia yang melatih, dia yang menjadi sutradaranya, yang membuat dekor, yang mengatur bagian teknik, dan aku rasa pertunjukannya memuaskan,” demikian Fatma Wati mengutip Nuryanti, 2007.

Bahkan, Soekarno harus mencontohkan gerakan-gerakan yang harus dilakukan para pemeran. Harapannya, para pemain sungguh dapat menjiwai perannya.

Apalagi, jelas Fatma Wati sandiwara tersebut dibuat dengan nuansa dan unsur politik yang mencoba untuk menyindir kekejaman Pemerintah Hindia Belanda.

Untuk urusan kostum dan persiapan panggung, Soekarno dibantu oleh Inggit dan ibunya, Amsi. Inggit dan Ratna Djuami atau Omi, putri angkat Soekarno, bertugas untuk mendandani para pemain dengan peralatan make up seadanya.

Serambi Bung Karno

Suasana Serambi Soekarno di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati.

Sementara untuk tempat pertunjukan, Soekarno yang awalnya bingung mencari akhirnya mendapatkan dukungan dari seorang misionaris gereja Katolik di Ende yakni Pater Huijtink yang juga menaruh simpati atas perjuangan sang pencetus Pancasila ini.

“Beliau dengan senang hati mau membantu Bung Karno dengan menunjuk sebuah gedung yang dapat disewa untuk mengadakan pertunjukan,” demikian penuturan Djae Bara dalam memoarnya yang dikutip Fatma Wati.

Pater yang juga menjadi teman diskusi Bung Karno itu berbaik hati untuk menanggung semua persiapan terkait gedung pertunjukan—Immaculata, yang kini menjadi salah satu situs bersejarah di Ende—. Uskup Ende menyumbang cat, sedangkan karcis dicetak oleh Percetakan Arnoldus milik para pastor dan bruder SVD (Societas Verbi Divini).

“Aku sendiri yang menjual karcisnya. Setiap pertunjukan berlangsung selama tiga hari dan kami bermain di hadapan 500 penonton. Ini merupakan peristiwa sosial besar, bahkan orang-orang Belanda juga membeli karcis. Hasilnya untuk membayar biaya-biaya sewa,” demikian penuturan Cindy Adams.

Adapun, dari 12 naskah yang disusun oleh Soekarno, ungkap Fatma Wati, hanya naskah berjudul 1945 tidak dipentaskan. Setiap pertunjukan sandiwara yang membutuhkan persiapan lama itu sangat menyita perhatian masyarakat Ende.

Bung Karno

Warga beraktivitas di kawasan Taman Renungan Bung Karno, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/10/2022)/JIBI/Bisnis/Suselo Jati.

Cerita yang beragam yakni mulai dari suasana percintaan dan heroik memenuhi benak para penonton. Fatma Wati mengungkapkan lantunan lagu Indonesia Raya juga juga menambah rasa dan kekuatan persatuan di antara mereka.

“Meskipun lagu Indonesia Raya itu sedikit diubah liriknya menjadi Indonesia Raya, Mulia, Mulia namun rasa kebersamaan yang dilambangkan dalam lirik lagu itu tetap terasa membakar semangat.”

Padahal, para penonton tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, melainkan juga dari pemerintah Belanda. Banyak dari mereka yang heran dan tercengang dengan urutan pertunjukan yang dipimpin oleh Soekarno tersebut.

Yang pasti, pengasingan di Ende menjadi satu cerita menarik tentang sisi seni Bung Karno. Fatma Wati mengungkapkan berkesenian merupakan satu jalan yang dipilihnya untuk tetap memelihara semangat perjuangan dalam diri sendiri dan kemudian mengobarkannya pada orang lain.

“Di Ende yang terpencil dan membosankan itu aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Dengan setiap sel syaraf berdenyut dalam seluruh tubuhku, aku merasakan bahwa bagaimanapun juga—di mana saja—kapan saja—aku akan kembali. Hanya semangat patriotisme yang menyala-nyala itu yang masih berkobar di dalam dadaku, yang membuat aku terus hidup,” demikian penuturan Bung Karno kepada Cindy Adams.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ende ntt soekarno bung karno Jelajah Sinyal
Editor : Oktaviano DB Hana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top