Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

BPOM Sebut Belum Ada Standar Internasional untuk Uji Cemaran EG & DEG

BPOM tidak pernah menguji kandungan cemaran etilen glikol (ET) dan dietilen glikol (DET), sebab sejauh ini belum ada standar internasionalnya.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 24 Oktober 2022  |  23:30 WIB
BPOM Sebut Belum Ada Standar Internasional untuk Uji Cemaran EG & DEG
Kepala BPOM Penny Lukito saat konferensi pers terkait penggunaan ivermectin - BPOM
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada standar internasional untuk menguji cemaran etilen glikol (ET) dan dietilen glikol (DET).

Dia memastikan bahwa BPOM selalu melakukan sampling routine pada produk atau jenis obat sebelum mendapatkan izin edar. Kegiatan pre-market ini termasuk memeriksa bahan baku dari produk yang harus dilaporkan ke BPOM saat registrasi.

Namun, sejauh ini Penny mengungkapkan pihaknya tidak pernah menguji kandungan cemaran etilen glikol (ET) dan dietilen glikol (DET), sebab sejauh ini belum ada standar internasional yang mengharuskan pengujian pada kedua cemaran tersebut.

"Nah khusus untuk cemaran EG dan DEG ini, sampai saat ini di dunia internasional belum ada standar yang mengatakan untuk diuji. Itulah kenapa kita tidak pernah menguji [kandungan cemaran EG dan DEG], karena belum dilakukan di dunia internasional," ujarnya dikutip melalui Youtube Sekretariat Presiden, Senin (24/10/2022)

Alhasil, dia memastikan atas kasus yang ramai belakangan ini menjadi titik untuk standar yang harus dikembangkan, sehingga menjadi bagian dari sampling routine dari BPOM.

Kendati demikian, Penny mengatakan bahwa meskipun pengujian merupakan tanggung jawab BPOM, tetapi pengujian produk di tahap pre-market ini juga kewajiban pelaku usaha. Adapun, BPOM tetap melakukan pengawasan setelah produk ini beredar di pasaran.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin turut menyampaikan alasan mengapa sebelumnya obat sirup aman dikonsumsi, tetapi sekarang ditarik dengan dugaan menyebabkan gagal ginjal pada anak.

Budi menilai kemungkinan penyebab cemaran paling besar berasal dari bahan baku. Adapun, saat ini pihaknya bersama BPOM sedang melihat apakah ada perubahan jenis, tipe, atau asal dari bahan baku pelarut yang digunakan di obat sirup.

"Kenapa dulu tidak ada sekarang iya, ini sangat tergantung dari bahan bakunya," kata Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat sirup BPOM kementerian kesehatan
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top