Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sejarah Laga Sepak Bola Paling Mematikan di Dunia, Tragedi Stadion Kanjuruhan Nomor 2

Tewasnya 127 orang dalam laga Arema FC vs Persebaya Surabaya Sabtu (1/10/2022) jadi pertandingan sepak bola paling mematikan kedua di dunia.
Szalma Fatimarahma
Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 02 Oktober 2022  |  10:03 WIB
Stadion Kanjuruhan
Stadion Kanjuruhan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tragedi Kanjuruhan yang telah menewaskan 127 orang dalam pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) itu akhirnya disebut-sebut sebagai pertandingan sepak bola paling mematikan kedua di dunia. 

Mengacu pada data yang diterbitkan oleh Priceonomics, posisi kedua pada awalnya dimiliki oleh tragedi di Accra Sports Stadium, Accra, Ghana pada 9 Mei 2001 dengan total korban tewas sebanyak 126 orang. 

Namun, secara tidak langsung, tragedi Kanjuruhan yang telah menewaskan sebanyak 127 korban jiwa itu pada akhirnya telah menggeser urutan tragedi Accra Sports Stadium dalam sejarah pertandingan sepak bola mematikan di dunia. 

Sementara itu, posisi pertama pertandingan sepak bola mematikan di dunia masih diduduki oleh tragedi Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964. Kerusuhan ini telah menewaskan sebanyak 328 orang. 

Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh tragedi Hillsborough, Sheffield, Inggris pada 15 April 1989 dengan total 96 korban jiwa. 

Seperti yang diketahui, kerusuhan antar dua suporter klub sepak bola yang telah menewaskan ratusan korban jiwa ini berawal dari keputusan seorang suporter Arema FC yang nekat masuk ke arah lapangan dan mendekati pemain Sergio Silva dan Adilson Maringa. 

Aksi nekat tersebut kemudian memicu ribuan suporter untuk ikut datang ke area lapangan dan meluapkan kekecewaan mereka kepada para pemain. Kerusuhan tersebut akhirnya diwarnai oleh aksi lempar melempar berbagai macam benda ke arah lapangan, termasuk flare.  

Di sisi lain, kerusuhan tersebut juga menyebabkan adanya 180 orang korban yang harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Malang, Jawa Timur. Menurut Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta, pihaknya juga mencatat adanya kerusakan pada 13 unit kendaraan, dengan 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri. 

"Masih ada 180 orang yang masih dalam perawatan. Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis, hanya sebagian. Sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan," terang Nico, Minggu (2/10/2022).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stadion Kanjuruhan sepak bola kerusuhan Suporter
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top