Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Epidemiolog: Pandemi Covid-19 Akan Sulit Menjadi Endemi Karena Dua Hal Ini

Epidemiolog menyebut tingkat prokes masyarakat yang mulai menurun dan inkonsistensi kebijakan pemerintah semakin memperburuk pandemi Covid-19.
Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari - Bisnis.com 18 Juli 2022  |  17:43 WIB
Epidemiolog: Pandemi Covid-19 Akan Sulit Menjadi Endemi Karena Dua Hal Ini
Epidemiolog menyebut tingkat prokes masyarakat yang mulai menurun dan inkonsistensi kebijakan pemerintah semakin memperburuk pandemi Covid-19. Ilustrasi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isoman berkonsultasi dengan dokter via layanan telemedisin - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Epidemiolog dan Peneliti Global Health Security dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyoroti penurunan kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan semakin memperburuk kondisi pandemi Covid-19.

Tak hanya itu, inkonsistensi pemerintah dalam penanganan pandemi ini juga berperan besar, sehingga transisi pandemi menuju endemi kian melambat.

"Banyak pemerintah, termasuk Indonesia yang tidak melihat aspek keseriusan ini, yang terbukti dari naik turunnya respons, tidak konsisten, cenderung terlalu optimistis," kata Dicky kepada Bisnis, Senin (18/7/2022).

Kecenderungan tersebut, menurut Dicky, bukan tidak mungkin membuat Indonesia akan semakin lama keluar dari pandemi Covid-19.

"Pandemi menjadi endemi atau berpola musiman kemungkinan ada, tapi kapannya bukan dalam waktu dekat, masih lama," imbuhnya.

Lebih jauh, Dicky juga mengingatkan bahaya 'tsunami long Covid', yang akan mengancam kesehatan penyintas Covid-19. Pasalnya, berdasarkan hasl penelitian University of Birmingham, pasien Covid kerap mengalami gejala meskipun telah sembuh.

Adapun, gejala yang kerap ditemukan di antaranya kelelahan, kesulitan bernapas, nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala, serta perubahan citra penciuman dan perasa.

"Ini saya ingatkan [pemerintah] untuk merespons pandemi secara serius karena yang kita lihat dan tuju bukan dalam jangka pendek saja, tapi jangka panjang. Ini dampak penurunan kualitas kesehatan individu antara lain yang terancam tsunami long Covid. Ini yang harus dibangun literasinya," ungkap Dicky.

Bukan hanya itu, Dicky mengingatkan bahwa situasi tersebut akan membuat gangguan berkelanjutan di banyak sektor seperti ekonomi, sosial, dan politik.

Adapun, kasus Covid-19 di Indonesia belakangan meningkat cukup tajam. Penyebaran subvarian Omicron BA4 dan BA5 disebut menjadi biang keroknya.

Pada 12 Juli 2022,  Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengungkapkan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia meningkat enam kali lipat jika dibandinglkan Juni kemarin.

Juru bicara (jubir) Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito memerinci bahwa terdapat penambahan kasus harian mencapai 3.361 konfirmasi positif pada Selasa (12/7/2022).

"Angka ini meningkat enam kali lipat dibanding tepat sebulan lalu atau 12 Juni 2022 yang mencatatkan sebanyak 551 kasus konfirmasi positif," kata Wiku dalam Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (13/7/2022).

Wiku menegaskan, kenaikan kasus yang terjadi secara signifikan merupakan pengingat agar masyarakat Indonesia dapat menekan penambahan kasus harian melalui protokol kesehatan (prokes) yang terus dijaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 Virus Corona Protokol Pencegahan Covid-19 Endemi
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top