Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menlu Australia dan China Kembali Buka Dialog di Acara G20 Bali

Setelah beberapa tahun bersitegang, Menlu Australia dan China kembali berdialog untuk pertama kali sejak 2019, membuka peluang perbaikan hubungan dua negara.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 11 Juli 2022  |  03:02 WIB
Menlu Australia dan China Kembali Buka Dialog di Acara G20 Bali
Penny Wong, Menteri Luar Negeri Australia, dalam upacara di Gedung Pemerintah di Canberra, Australia, Senin, (23/5 - 2022). Bloomberg / Brendon Thorne
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Australia dan China untuk pertama kalinya bertemu sejak 2019 di tengah ketegangan yang belum juga terjembatani dalam beberapa tahun terakhir.

Keduanya membuka dialog di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri G20 di Bali, baru-baru ini. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong setelah pertemuan di Bali mengatakan dia dan Menlu China Wang Yi berbicara terus terang dan mendengarkan dengan seksama prioritas dan keprihatinan masing-masing.

"Kami memiliki perbedaan, tetapi kepentingan kedua negara kami [sama-sama] untuk menstabilkan hubungan," kata Wong, dilansir Bloomberg, Senin (11/7/2022).

China merupakan mitra dagang terbesar Australia, tetapi hubungan keduanya telah memburuk selama lima tahun terakhir, dengan meningkatnya ketegangan dan kritik bilateral. Puncaknya, China memberlakukan tarif ekspor anggur dan jelai pada 2020 dan memblokir perdagangan barang-barang lain.

Dengan terpilihnya pemerintahan baru di Canberra pada Mei, kedua belah pihak telah berusaha untuk memperbaiki hubungan tersebut.

"Tentu saja ini hanya langkah pertama dan saya perhatikan bahwa menteri luar negeri kami mengangkat masalah yang menjadi perhatian, termasuk sanksi yang tetap berlaku yang merugikan kepentingan ekonomi Australia," kata Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.

Sementara itu, menurut pernyataan resminya, Wang mengatakan bahwa China bersedia bekerja sama untuk memulihkan hubungan kedua negara.

Wang mengatakan bahwa akar dari masalah bilateral itu adalah bahwa pemerintah sebelumnya di Canberra memperlakukan China sebagai lawan atau ancaman. Dia berharap Australia akan mengambil tindakan praktis dan meningkatkan pemahamannya tentang China.

Penny Wong, di sisi lain mengatakan Australia berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan tenang.

"Kami adalah pemerintah yang telah membuat keputusan tertentu atas dasar kepentingan nasional kami dan keamanan nasional kami dan kedaulatan kami, dan kami tidak akan mundur dari itu," kata Wong.

Ketika pandemi Covid-19 menyebar, Australia meminta dunia internasional untuk menggelar investigasi terhadap asal-usul virus corona yang pertama kali ditemukan di China. Pernyataan itu pun membuat geram Pemerintah China, yang kemudian berbuah sanksi dan ketegangan.

Duta Besar China untuk Australia Xiao Qian mengatakan bahwa tahun-tahun belakangan ini merupakan masa yang sulit bagi hubungan kedua negara. Pemerintahan yang bari di Australia menawarkan pilihan untuk memperbaiki hubungan.

Selain perdagangan, Canberra telah berulang kali mengkritik tindakan China di Hong Kong, Xinjiang, Laut China Selatan, dan terkait Taiwan. Beijing kesal karena Australia telah melarang Huawei Technologies Co. berpartisipasi dalam peluncuran jaringan 5G, memblokir investasi oleh beberapa perusahaan China, dan menyelidiki campur tangan asing.

"Kami punya jalan untuk dilalui dan kami akan melihat apakah itu bisa mengarah ke tempat yang lebih baik antara kedua negara," kata Wong

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia china ekonomi china bilateral hubungan bilateral
Editor : Reni Lestari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top