Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksin Booster Covid-19 jadi Syarat Perjalan Udara, Pakar: Tidak Efektif

Kepala Bidang Pengembangan (PAEI) menilai penetapan vaksinasi booster sebagai syarat perjalanan udara tidak efektif meredam laju penyebaran virus Covid-19.
Szalma Fatimarahma
Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 11 Juli 2022  |  18:39 WIB
Vaksin Booster Covid-19 jadi Syarat Perjalan Udara, Pakar: Tidak Efektif
Kepala Bidang Pengembangan (PAEI) menilai penetapan vaksinasi booster sebagai syarat perjalanan udara tidak efektif meredam laju penyebaran virus Covid-19. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo - rwa.
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan telah menetapkan kebijakan penggunaan vaksinasi dosis ketiga atau booster Covid-19 sebagai salah satu syarat untuk melakukan perjalanan udara.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menilai bahwa upaya tersebut kurang tepat untuk mengendalikan laju penyebaran virus.
Terlebih lagi, sambungnya, kewajiban untuk melakukan tes Covid bagi masyarakat yang belum mendapatkan vaksin booster juga tak efektif. 
"Tes Covid-19 dengan vaksinasi dosis 1 ataupun 2 sama sekali tidak berkaitan. Berbulan-bulan kita lakukan itu, apakah kasus turun? Tidak. Kasus tetap naik ketika ada varian of concern [VoC] baru ataupun subvariannya yang diperkuat dengan positivity rate yang tinggi dan jumlah test yang tidak kuat,”jelas Masdalina kepada Bisnis, Senin (11/7/2022). 
Masdalina menyebut pihaknya kerap menekankan  upaya testing bagi para pelaku perjalanan tidak efektif untuk dilakukan. Menurutnya, kebutuhan testing hanya pentinh dilakukan terhadap tiga kelompok masyarakat, yakni suspek, probable, dan masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19. 
Selain itu, penetapan aturan vaksin booster sebagai syarat perjalanan udara juga akan bersifat kontradiktif dengan pernyataan pemerintah yang mengatakan bahwa rerata antibodi yang dimiliki masyarakat Indonesia saat ini telah mencapai angka 7.000-8.000. 
Dengan tingginya capaian jumlah rerata antibodi yang ada di masyarakat, sambungnya, pemerintah seharusnya lebih memfokuskan diri kepada cakupan vaksin dosis kedua yang merupakan rangkaian vaksinasi primer, yang saat ini masih berada di bawah 70 persen. 
"Booster itu artinya penguat dan dilakukan ketika jumlah antibodi sudah menurun, terutama pada kurun waktu 6-9 bulan setelah melakukan vaksin dosis kedua. Jadi kalau antibodi masih bagus, pemerintah sebaiknya fokus kepada capaian vaksin dosis kedua dulu,”ungkap Masdalina. 
Namun, dengan telah ditetapkannya aturan tersebut oleh pemerintah, Masdalina meminta masyarakat hingga pejabat menaatinya. 
Adapun untuk menekan lonjakan kasus Covid-19, Masdalina mengimbau pemerintah untuk kembali memperbaiki upaya 3T, yakni testing, tracing, dan treatment yang selama beberapa bulan terakhir mengalami penurunan. 
"Jika dibandingkan dengan tahun 2020 dan 2021 lalu, memang upaya 3T kita saat ini sangat menurun, hal inilah yang harus diperbaiki pemerintah sebagai upaya pengendalian wabah," kata Masdalina. 
Sekadar informasi, penggunaan vaksin booster sebagai prasyarat perjalanan udara dengan menggunakan pesawat mulai diberlakukan secara efektif pada 17 Juli mendatang.
Adapun peraturan tersebut tertuang dalam SE Nomor 70 Tahun 2022 tentang petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang dalam Negeri (PPDN) dengan transportasi udara pada masa pandemi Covid-19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 Vaksin Covid-19 Covid-19 Vaksin Booster pesawat PCR swab antigen
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top