Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peneliti Pastikan NeoCov Bukan Varian Baru Covid-19

NeoCov dipastikan bukan varian baru virus Corona atau Covid-19.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 31 Januari 2022  |  12:12 WIB
Ilustrasi - Varian baru Virus Corona SARS-CoV-2. - Antara
Ilustrasi - Varian baru Virus Corona SARS-CoV-2. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – NeoCov dapat dipastikan bukan merupakan varian baru dari virus Covid-19, tetapi berasal dari jenis virus corona yang berbeda yang terkait dengan sindrom pernapasan Timur Tengah (Mers-CoV).

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan Mers-CoV merupakan virus yang ditularkan ke manusia dari unta dromedari (Arab) yang terinfeksi.

Adapun, virus ini bersifat zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia dan dapat ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan.

"Mers-CoV telah diidentifikasi pada dromedari di beberapa negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan. Secara total, 27 negara telah melaporkan kasus sejak 2012, menyebabkan 858 kematian yang diketahui karena infeksi dan komplikasi terkait," kata WHO, dikutip dari Independent, Senin (31/1/2022).

WHO melanjutkan, 35 persen pasien yang terinfeksi Mers-Covid telah meninggal, meskipun kemungkinan juga karena kasus-kasus bawaan yang mungkin terlewatkan oleh sistem pengawasan yang ada.

Sementara itu, NeoCoV diyakini sebagai kerabat Mers-CoV dan beredar dengan induk yang bersemayam di kelelawar, para ilmuwan yang berbasis di Wuhan memperingatkan bahwa NeoCoV dapat menyebabkan masalah jika ditransfer dari kelelawar ke manusia.

Profesor Lawrence Young, seorang ahli virus di Universitas Warwick mengatakan belum ada potensi ancaman NeoCoV menginfeksi manusia atau tidak ada indikasi seberapa menular atau fatalnya.

"Namun, kami perlu melihat lebih banyak data yang mengkonfirmasi infeksi pada manusia dan tingkat keparahan yang, sementara itu [studi] pra-cetak menunjukkan bahwa infeksi sel manusia dengan NeoCoV sangat tidak efisien. Apa yang disoroti ini, bagaimanapun, adalah perlunya waspada tentang penyebaran infeksi virus corona dari hewan ke manusia, tuturnya.

Dikutip melalui TASS, WHO tengah bekerja sama dengan sejumlah organisasi global termasuk World Organization for Animal Health (OIE) dan the Food and Agriculture Organization (FAO) akan memonitor dan merespons ancaman penyakit zoonosis yakni penyakit yang ditularkan oleh hewan.

"Apakah virus yang terdeteksi dalam studi ini akan memberikan risiko pada manusia, butuh penelitian lebih lanjut," kata WHO, dikutip dari TASS, Minggu (30/1/2022).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

who
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top