Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obituari Colin Powell: Pahlawan AS yang Mengubah Nasib Warga Irak

Colin Powell adalah pejabat Amerika Serikat yang menghadap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2003 untuk membenarkan perang terhadap Irak.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 19 Oktober 2021  |  10:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Meninggalnya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Colin Powel memiliki arti yang berbeda di luar negeri meskipun di negaranya dianggap sebagai pahlawan. 

Keturunan Yamaika yang juga merupakan warga kulit hitam AS pertama yang menjadi menteri kabinet di negara itu memang menjadi sosok kontroversi ketika terjadi Perang Teluk yang akhirnya menjatuhkan penguasa Irak, Saddam Husein.

Bagi banyak warga Irak, Colin Powell adalah pejabat Amerika Serikat yang menghadap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2003 untuk membenarkan perang yang menghancurkan negara mereka.

Berita kematian Powell Senin di usia 84 kembali memicu perasaan marah di Irak terhadap salah satu mantan pejabat pemerintahan Goerge Bush yang mereka anggap bertanggung jawab atas invasi pimpinan AS yang menyebabkan puluhan ribu kematian, kekacauan, dan kekerasan di Irak.

Kesaksiannya di PBB adalah bagian penting dari peristiwa yang mereka katakan telah menimbulkan kerugian besar bagi rakyat Irak.

“Dia berbohong, berbohong, dan berbohong,” kata Maryam, seorang penulis Irak berusia 51 tahun dan ibu dari dua anak di Irak utara yang berbicara dengan syarat nama belakangnya tidak digunakan karena salah satu anaknya belajar di Amerika Serikat.

“Dia berbohong, dan kitalah yang terjebak dengan perang yang tidak pernah berakhir,” tambahnya. 

Sebagai ketua Kepala Staf Gabungan, Powell mengawasi perang Teluk untuk menyingkirkan tentara Irak pada tahun 1991 setelah pemimpin Irak Saddam Hussein menginvasi Kuwait.

Tetapi rakyat Irak lebih mengingat Powell karena presentasinya di PBB yang membenarkan invasi ke negara mereka dengan menyebut Saddam Hussein sebagai ancaman global utama yang memiliki senjata pemusnah massal.

Di ruang Dewan Keamanan PBB, dia menampilkan foto dan diagram yang dimaksudkan untuk merinci senjata pemusnah massal Irak, serta terjemahan dari penyadapan intelijen AS. Pada satu titik, Powell mengacungkan sebuah botol kecil berisi satu sendok teh simulasi antraks, memperingatkan bahwa Irak tidak memperhitungkan "puluhan ribu sendok teh" patogen mematikan itu.

Akan tetapi sejarah membuktikan tidak ada senjata seperti itu yang pernah ditemukan, dan pidato itu kemudian dicemooh sebagai titik terendah dalam karirnya.

"Saya sedih dengan kematian Colin Powell tanpa diadili atas kejahatannya di Irak ... Tapi saya yakin pengadilan Tuhan akan menunggunya," cuit Muntadher al-Zaidi, seorang jurnalis Irak yang melampiaskan kemarahannya pada AS dengan melemparkan sepatunya ke Presiden George W Bush saat konfeensi pers pada 2008 di Bagdad.

Pada tahun 2011, Powell mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia menyesal memberikan informasi intelijen yang menyesatkan yang menyebabkan invasi AS. Dia menyebutnya hal itu sebagai “noda dalam catatan saya.” 

Dia mengakui banyak sumber yang dikutip oleh komunitas intelijen salah informasi.

 

Saif Salah al-Hety, seorang jurnalis Irak dalam sebuah tweet mengatakan kesaksian Powell kepada PBB tetap menjadi salah satu perkembangan paling penting di Irak hingga hari ini.

“Semoga dia menjalani penghakiman Allah beserta orang-orang yang mendukung, membantu dan berpartisipasi dengan dia,” kata al-Hety.

Saddam ditangkap oleh pasukan AS saat bersembunyi di Irak utara pada Desember 2003 dan kemudian dieksekusi oleh pemerintah Irak dujungan AS.

Akan tetapi pemberontakan yang muncul dari pendudukan AS tumbuh menjadi kekerasan sektarian mematikan yang menewaskan banyak warga sipil Irak, dan perang berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan oleh pemerintahan Bush dan akhirnya membantu memunculkan kelompok bersenjata ISIS.

Orang irak mengatakan mereka terus berjuang dengan efek perang hingga hari ini dan memiliki trauma sebagai akibat dari tumbuh dengan perang, pengungsian dan bertahun-tahun kekerasan serta pemboman di negara mereka.

Presiden Barack Obama menarik pasukan AS keluar dari Irak pada 2011 tetapi mengirim penasihat keamanan kembali tiga tahun kemudian setelah para pejuang ISIS menyerbu dari Suriah dan menguasai sebagian besar wilayah kedua negara.

Akan tetapi, apa boleh buat. Ibarat pepatah, kini “Nasi sudah jadi bubur”. Kesaksian Powell di PBB telah mengakibatkan kematian puluhan ribu warga Irak. 

Pengakuannya atas kesalahan intelijen pada 2011 akan sulit  menghapus “dosanya” meyakinkan PBB bahwa Irak punya senjata pemusnah massal 18 tahun lalu.

Bahkan dia telah mengubah nasib warga negara itu sehingga seorang Colin Powell tidak akan pernah dilupakan oleh warga Irak meski di dalam negerinya di AS dia dinggap sebagai pahlawan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

irak menlu as
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top