Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

ISIS Disebut Dalang Bom Bunuh Diri di Bandara Kabul, Afghanistan

Media propaganga ISIS Amaq mengatakan melalui telegram bahwa seorang anggota bernama Abdul Rahman al-Logari melakukan operasi syahid di dekat Bandara Kabul.
Ilustrasi - Bendera ISIS/Reuters
Ilustrasi - Bendera ISIS/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kelompok ekstrimis ISIS yang berafiliasi dengan Islamic State Khorasan Province (ISKP) menjadi tersangka utama dalam aksi bom bunuh diri di bandara Kabul, Afghanistan, Kamis (26/8/2021) malam.

Dikutip dari The Guardian, media propaganda ISIS Amaq mengatakan melalui telegram bahwa seorang anggota bernama Abdul Rahman al-Logari melakukan operasi syahid di dekat Bandara Kabul.

Dalam aksi itu, setidaknya 12 tentara AS (13 orang, menurut laporan terbaru Al Jazeera) dan lebih dari 60 warga sipil warga Afghanistan tewas.

Beberapa pengamat keamanan menyampaikan kekhawatiran dengan serangan intensif yang dilakukan ISKP dalam beberapa bulan terakhir.

“Pergerakan ISKP mulai bangkit setelah masa sulit pada 2019 dan paruh pertama 2020, tetapi mereka tiba-tiba tidak melakukan apa-apa sejak pengambilalihan Taliban dan kemungkinan alasannya adalah kelompok itu bersiap untuk melakukan rencana baru,” kata Charlie Winter, peneliti senior di London University’s International Centre for the Study of Radicalisation (ICSR).

Lebih lanjut, dia menilai bandara menjadi sasaran empuk serangan bagi ISIS karena menjadi tempat orang berkerumun, sekaligus merusak fasilitas bandara.

Sementara itu, sambungnya, ISIS juga melihat banyak warga sipil Afghanistan sebagai pembelot atau ‘murtad’ karena mendukung upaya AS di Afghanistan.

Pakar lain dari ICSR, Tore Hamming menilai serangan ISIS kemarin malam menjadi sebuah kemenangan besar.

“Mereka menanggap aksi tersebut sukses, sekaligus memberi sinyal bahwa mereka masih menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan dan mereka menantang proyek negara Taliban dengan menyoroti bahwa kelompok itu tidak dapat mengamankan Kabul,” katanya.

Adapun, ISKP yang berdiri kurang dari enam tahun yang lalu berisikan ekstrimis yang tidak lagi sejalan dengan kelompok Taliban.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Sumber : The Guardian
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper