Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fenomena Baliho Pilpres: Saat Syahwat Politik Mengalahkan Pandemi

Saat rakyat bersusah payah menghadapi pandemi, para politisi justru sibuk mencari simpati lewat pemasangan baliho di berbagai pelosok negeri. Selain kurang pas, pemasangan baliho itu juga mengganggu estetika ruang publik.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 05 Agustus 2021  |  15:43 WIB
Fenomena Baliho Pilpres: Saat Syahwat Politik Mengalahkan Pandemi
Publik menunjukkan kekecewaan terhadap para politisi yang tidak mampu mengendalikan syahwat politiknya saat rakyat sedang berjibaku dengan pandemi. Sumber twitter MediaRkyat_
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pandemi Covid-19 belum berakhir. Rakyat juga sedang susah menghadapi kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah.

Di sisi lain, para politisi justru sibuk promosi. Seolah tanpa malu, mereka secara terbuka tampil di ruang publik dengan berbagai pose dan tampilan esentrik demi mengais simpati masyarakat yang sedang sekarat.

Publik sebenarnya sudah mafhum, perilaku elit politik tersebut menegaskan bahwa kualitas demokrasi pasca reformasi memang mulai terdistorsi. Keberadaan baliho kampanye Pilpres 2024 di sudut-sudut jalan raya seolah mengesankan bahwa di dalam kepala mereka, hanya ada kekuasaan dan bagaimana meningkatkan tingkat elektoral. Kemanusian? Itu soal lain.

Alhasil, fenomena baliho dan ketidakpekaan para elit itu menjadi bulan-bulanan publik. Publik menilai para tokoh politik yang wajahnya terpampang di sana tidak memiliki empati karena saat ini negara tengah krisis akibat pandemi Covid-19.

Berdasarkan pantauan Bisnis, beberapa tokoh politik yang wajahnya banyak terpampang di baliho adalah Ketua DPR Puan Maharani, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimim Iskandar, dan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Seorang warganet melalui akun Twitter @AT_AbdillahToha menilai biaya baliho lebih baik dialihkan untuk membantu rakyat terdampak pandemi.

Halo Puan, Erlangga, Muhaimin, AHY, apa tidak risih dan malu memajang gambar diri besar2 di sekujur Indonesia bersaing utk pilpres yang masih 3 tahun lagi, ketika rakyat sedang bergulat atasi pandemi dan kehidupan sehari2? Kenapa tak gunakan uang baliho itu utk bantu rakyat saja?” cuitnya, pada Kamis (5/8/2021).

Sementara itu, akun @jek__ menilai bahwa saat krisi seperti saat ini harusnya menjadi momentum para tokoh politik bekerja untuk rakyat dan bukan berkampanye lewat baliho.

Baliho pejabat udah di mana2 kerja untuk indonesia 2024 duh, gimana ya ngomongnya. kan sekarang lagi banyak masalah ya, pandemi belum kelar, orang2 kelaparan, kok ya nunggu abis pemilihan baru mau kerja, sekarang lah kerjanya buset ngapain aja dah selama ini haha hihi aja lu,” cuitnya.

Pakar Komunikasi Politik Univesitas Paramadina Hendri Satrio juga ikut menyindir para petinggi partai polik yang dinilainya minim rasa empati dan jiwa sosial.

“Ya ngapain juga para petinggi politik yang pasang baliho kampanye kita ajarin empati dan berjiwa sosial di masa Pandemi, buang waktu aja, mereka kan mestinya udah paham dong. Lagipula kan gak mungkin kita maksa orang untuk beramal #Hensat,” katanya melalui Twitter, Rabu (4/8/2021).

Politkus Partai Gerindra, Fadli Zon juga mengkritisi keberadaan baliho tersebut, tetapi secara spesifik mengarah kepada baliho politikus PDI Perjuangn Puan Maharani. Dia mengoreksi diksi yang menurutnya salah dalam baliho tersebut.

"Mari gunakan bahasa Indonesia yg baik dan benar apalagi dlm bentuk baliho besar yg terpampang ke seantero negeri," katanya cuitan Twitter beberapa waktu lalu.

Dongkrak Popularitas

Hendri Satrio menilai, pemasangan baliho oleh para petinggi partai politik bisa dimaknai sebagai upaya untuk mendongkrak popularitas.

“Dari hasil survey Kedai Kopi yang paling efektif untuk memperkenalkan calon adalah lewat baliho. Ini bukan masalah tingkat keterpilihan tapi tentang popularitas,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (5/8/2021).

Selain menilai para petinggi partai politik yang kurang memiliki empati pada kondisi krisis akibat pandemi, Hendri juga menyayangkan baliho yang isinya kampanye Pemilu 2024.

Menurutnya, Pemilu 2024 masih lama sehingga kampanye pada masa sekarang ini tidaklah tepat.

“Sangat disayangkan masih jauh 2024, walaupun ada lah momen yang sekarang ini bisa pasang [baliho] karena memang masyarakat sedang berpikir bersiap-siap dan mencari tahu kira-kira siapa yang akan menggantikan Pak Jokowi tapi tetap saja menurut saya timing-nya tidak pas,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

muhaimin iskandar airlangga hartarto Pilpres 2024 Covid-19
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

back to top To top