Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Situs Lukisan Purba di Maros Terancam oleh Perubahan Iklim Drastis

Perubahan iklim dan pemanasan global yang berjalan lebih cepat, mengancam keberadaan lukisan purba di Maros, Sulawesi Selatan.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 14 Mei 2021  |  15:10 WIB
Lukisan purbakala yang ditemukan di situs Leang Bulu' Sipong 4 yang merupakan satu dari ratusan gua di daerah Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. - Istimewa/Maxime Aubert / PA Wire
Lukisan purbakala yang ditemukan di situs Leang Bulu' Sipong 4 yang merupakan satu dari ratusan gua di daerah Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. - Istimewa/Maxime Aubert / PA Wire

Bisnis.com, JAKARTA - Lukisan kuno berbentuk manusia dan hewan yang dibuat antara 25.000 dan 45.000 tahun yang lalu di Maros-Pangkep, terancam mengalami kerusakan karena karena perubahan iklim yang cepat.

Kondisi ini disebabkan curah hujan musiman, ditambah dengan kekeringan yang meningkat sehingga mengancam konservasi seni gua di situs Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kawasan ini memiliki lukisan prasejarah tertua di dunia serta menjadi wilayah dengan batuan kapur terpanjang kedua dalam sejarah setelah China.

Namun, perlahan perubahan iklim dinilai mempengaruhi situs kuno tersebut. Bloomberg menyebutkan bahwa fenomena alam El Nino berkepanjangan hingga naiknya suhu permukaan di Samudra Pasifik berdampak pada situs itu.

Selain itu, kekeringan dan hujan yang meningkat menyebabkan garam dan mineral mengkristal di dalam gua batu kapur tersebut. Alhasil lukisan puluhan ribu tahun ini mulai tergerus.

Kerusakan ini kian cepat selama empat dekade terakhir karena peningkatan emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia mengubah iklim dunia, terutama di daerah tropis.

Majalah Nature menyebutkan peningkatan suhu rata-rata global sebesar 1,5 hingga 2 derajat Celcius pada akhir abad ini akan memiliki implikasi yang sangat besar bagi konservasi seni cadas.

“Di hampir semua situs yang berisi seni awal, stensil tangan dan motif figuratif sangat dipengaruhi oleh pengelupasan dinding gua batu kapur dan permukaan langit-langit yang membentuk 'kanvas' seniman,” tulis artikel itu dikutip Bloomberg, Jumat (14/5/2021).

“Banyak bukti kuantitatif dan anekdot yang menunjukkan bahwa tingkat pengelupasan kulit meningkat.”

Garam kristal pada bebatuan mengembang ketika suhu lingkungan memanas dan mengerut saat suhu mendingin. Transisi dari suhu dingin ke panas dan begitu pula sebaliknya dalam waktu terlampau cepat, mempengaruhi daya tahan lukisan. 

Tekanan itu dapat menghasilkan retakan atau bahkan mengangkat serpihan, melepaskannya dari permukaan. Fenomena ini disebut para ahli sebagai eksfoliasi. 

Kerusakan diperparah oleh fakta bahwa karya seni tersebut berada di wilayah monsun Australasia, kawasan dengan atmosfer paling dinamis di dunia.

Pelestarian lukisan di situs Maros-Pangkep yang pertama kali ditemukan oleh para arkeolog pada tahun 1950-an. Penemuan ini menjadi penting karena merupakan salah satu kesaksian tertua seni prasejarah di dunia.

Hingga kini setidaknya tercatat lebih dari 300 gua di wilayah itu. Angka ini agaknya menyaingi seni gua zaman es di Eropa Barat.

"[Ini merupakan] Catatan unik dan tak tergantikan dari budaya artistik manusia purba di wilayah yang sedikit dipahami," kata para peneliti.

Sejumlah lukisan tertua di situs tersebut seperti stensil murbei dan tangan merah. Sebagian besar lukisan itu menggambarkan hewan.

Peneliti juga menemukan seni yang lebih baru dibuat dengan arang hitam dan mencakup gambar kecil dari sosok manusia, hewan peliharaan seperti anjing, dan simbol geometris dan abstrak. 

Satu adegan, yang diyakini para peneliti sebagai catatan tertua dari strategi berburu, menampilkan beberapa sosok manusia sedang menggambar hewan berbeda ke arah pemburu yang menunggu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulawesi utara perubahan iklim situs purbakala
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top