Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Klaster Perkantoran Naik, Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan Goyah

Vaksin baru akan efektif jika lingkungan tidak dalam kondisi pandemi. Saat ini vaksinasi tidak cukup untuk menjadi benteng perlindungan.
Ilustrasi - Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta/Bisnis-Arief Hermawan P
Ilustrasi - Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta/Bisnis-Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Meningkatnya klaster Covid-19 pada lingkungan perkantoran mungkin terjadi karena abainya pegawai terhadap protokol kesehatan.

Di saat yang sama, vaksinasi mandiri tidak bisa menjadi solusi.

Dokter dan Tim Penanganan Covid-19 Fala Adinda mengatakan setiap perusahaan pasti telah menetapkan protokol kesehatan yang ketat sebagai respons pandemi.

Namun, meningkatnya penyebaran Covid-19 di area perkantoran diyakini akibat abainya terhadap protokol kesehatan.

“Ini merupakan fenomena yang cukup butuh banyak variabel. Apakah protokol kesehatan mulai diabaikan karena beberapa waktu ke belakang kami Satgas menambah dua M yaitu menahan mobilitas dan menjauhi kerumunan,” katanya dalam dialog virtual, Selasa (4/5/2021).

Ia pun menyinggung soal aktivitas karyawan saat berada di kantor.

“Ketika masuk ke kantor, otomatis para karyawan juga mulai aktivitas kembali. Mungkin makan siang bersama, meeting dalam satu ruangan dan menimbulkan infeksi baru,” lanjutnya.

Sementara itu, mulai banyaknya perusahaan yang menyediakan vaksinasi bagi pegawai dinilai tidak dapat menjadi solusi dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengingatkan vaksin baru akan efektif jika lingkungan tidak dalam kondisi pandemi. Dengan demikian, saat ini vaksinasi tidak cukup untuk menjadi benteng perlindungan.

“Tentunya harus tetap melaksanakan protokol kesehatan karena vaksin tidak 100 persen melindungi,” tutur Nadia.

Namun, dengan vaksin, tubuh yang terinfeksi virus akan memiliki memori dan membentuk pertahanan agar kemudian dapat melawan virus yang masuk ke tubuh.

“Perlindungan vaksin dari gejala yang berat sangat tinggi yakni 90-95 persen, tetapi risiko tertular masih tetap ada bagi yang sudah mendapat vaksin,” ungkapnya.

Sementara itu, realisasi vaksinasi saat ini masih jauh dari target, yakni baru sekitar 12 juta orang dari target 185 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Nindya Aldila
Editor : Saeno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper