Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Akui Genosida Armenia, Turki dan Azerbaijan Sebut Biden Membelokkan Sejarah

Joe Biden menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang mengakui bahwa Kekaisaran Ottoman (Turki Usmani) telah melakukan tindakan 'genosida' atau pembunuhan massal atas orang-orang Armenia selama Perang Dunia I.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 25 April 2021  |  06:48 WIB
Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden membahas UU Perlindungan kesehatan Affordable Care Act (Obamacare) dalam jumpa pers di Wilmington, Delaware, AS, 10 November 2020. - Antara/Reuters\r\n
Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden membahas UU Perlindungan kesehatan Affordable Care Act (Obamacare) dalam jumpa pers di Wilmington, Delaware, AS, 10 November 2020. - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Pengakuan presiden AS atas pembunuhan massal orang Armenia pada Perang Dunia I oleh Kekaisaran Ottoman sebagai 'genosida' disambut baik oleh Armenia tetapi mendapat kecaman keras dari pemerintah Turki dan Azerbaijan.

Joe Biden menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang mengakui bahwa Kekaisaran Ottoman (Turki Usmani) telah melakukan tindakan 'genosida' atau pembunuhan massal atas orang-orang Armenia selama Perang Dunia I.

Dalam sebuah pernyataan pada Hari Peringatan Genosida Armenia kemarin, Biden mengatakan: “Setiap tahun pada hari ini, kami mengingat kehidupan semua orang yang meninggal dalam genosida Armenia era Ottoman dan kami berkomitmen untuk mencegah kekejaman seperti itu terjadi lagi."

"Rakyat Amerika Serikat menghormati semua orang Armenia yang tewas dalam genosida yang dilakukan 106 tahun lalu," menurut pernyataannya seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (25/4/2021).

Menanggapi penyataan Biden itu, Kementerian Luar Negeri Turki menolak keras dan mengecam pernyataan presiden AS tersebut.

"Pernyataan AS ini, yang mendistorsi fakta sejarah, tidak akan pernah diterima dalam hati nurani rakyat Turki dan akan membuka luka mendalam yang merusak rasa saling percaya dan persahabatan kami. Kami meminta presiden AS untuk memperbaiki kesalahan besar ini,” menurut pernyataan itu.

Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan pernyataan AS tersebut hanya berdasarkan populisme, sementara Presiden Recep Tayyip Erdogan menuduh pihak ketiga sedang berusaha mempolitisasi perdebatan tersebut.

"Politisasi dari diskusi yang harus diadakan oleh sejarawan dan intervensi terhadap negara kita oleh pihak ketiga tidak akan menguntungkan siapa pun," kata Erdogan dalam sebuah surat kepada perwakilan Armenia di Istanbul.

Semmentara itu, dalam sebuah surat kepada Biden, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan orang-orang Armenia di seluruh dunia menyambut baik pernyataannya.

"Saya sangat menghargai posisi Anda yang berprinsip, yang merupakan langkah kuat untuk mengakui kebenaran, keadilan historis, dan dukungan yang tak ternilai bagi keturunan para korban Genosida Armenia," tulis Pashinyan di media sosial.

Pashinyan yang membagikan cuitan di Twitter yang menekankan bahwa pernyataan Biden merupakan hari penting bagi semua orang Armenia.

Presiden Armenia Armen Sirkissian juga menyatakan pengakuan bahwa hal itu membuka prospek baru bagi hubungan AS-Armenia.

Sedangkan pihak Kementerian Luar Negeri Azerbaijan, yang memerangi pasukan Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh tahun lalu, menyebut pernyataan Biden sebagai tindakan "memutarbalikkan fakta sejarah" dari apa yang terjadi.

"Mereka yang mempolitisasi apa yang disebut 'genosida Armenia' diam atas pembantaian lebih dari 500.000 orang oleh kelompok bersenjata Armenia pada saat itu," kata kementerian itu.

Dalam panggilan telepon dengan Erdogan pada Sabtu kemarin, Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev menyebut pernyataan AS itu sebagai kesalahan bersejarah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki genosida armenia Joe Biden
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top