Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tsunami Covid-19 di India: Krematorium Kewalahan & Petugas Kerja Lembur

Banyak krematorium di India bekerja lembur untuk mengatasi lonjakan kematian akibat Covid-19.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 21 April 2021  |  20:24 WIB
Tenaga medis berupaya menyelamatkan pasien di tengah serangan gelombang kedua Covid-19 di India  -  Express Photo by Amit Chakravarty
Tenaga medis berupaya menyelamatkan pasien di tengah serangan gelombang kedua Covid-19 di India - Express Photo by Amit Chakravarty

Bisnis.com, JAKARTA - Pengelola krematorium dan pemakaman di India kewalahan mengatasi lonjakan kasus kematian akibat wabah virus Corona.

Maklum, India kini menjadi negara kedua dengan kasus terbanyak Covid-19 setelah mengambil alih posisi Brasil selain menghadapi gelombang kedua kasus Covid-19 yang mematikan.

"Tsunami Covid" menerjang negara itu, mengakibatkan rumah sakit kewalahan dengan hampir 1.000 kematian terkait Covid-19 tercatat setiap harinya.

Di Maharashtra, negara bagian India yang terdampak parah akibat virus Corona misalnya, banyak krematorium bekerja lembur untuk mengatasi lonjakan kematian.

"Hari masih siang dan kami telah melakukan kremasi 22 mayat," kata Varun Jangam, seorang pekerja di rumah duka milik pemerintah di kota Pune seperti dikutip BBC.com, Rabu (21/4/2021).

Dia mengaku harus mengremasi 50 hingga 60 mayat setiap harinya.

“Kami hanya memiliki enam lemari pendingin, tapi banyak sekali mayat yang dibawa ke sini. Orang-orang harus menunggu di luar bersama mayat kerabat mereka," ujarnya.

Varun menuturkan kendati dia bekerja selama delapan jam dalam sehari, beban kerjanya sangat besar sehingga terpaksa bekerja lembur selama beberapa jam setelah waktu kerjanya usai.

Dia adalah satu dari segelintir pekerja yang mengenakan alat pelindung diri (APD) selama proses kremasi.

Di wilayah lain seperti Rajkot dan Gujarat, kasus virus Corona juga mengalami pelonjakan. Mereka yang bekerja di krematorium pemerintah terpaksa mengremasi korban Covid-19 tanpa mengenakan masker atau sarung tangan.

Para pekerja mengatakan kepada BBC kadang kala mereka mendapatkan sarung tangan dari rumah sakit jika mereka bepergian dengan ambulans, namun sebaliknya, mereka tak memiliki alat pelindung yang layak.

Menurut kantor berita Reuters, sejumlah kota besar melaporkan jumlah kremasi dan penguburan dengan protokol virus Corona yang jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian resmi Covid-19.

Tungku gas dan kayu bakar di salah satu krematorium di negara bagian Gujarat, India barat, telah beoperasi begitu lama tanpa jeda selama pandemi Covid-19, sehingga bagian logamnya mulai meleleh.

Bekerja Tanpa APD

Sedangkan para pekerja krematorium di Rajkot tengah memindahkan jenazah pasien Corona tanpa mengenakan masker atau alat pelindung diri (APD).
Akan tetapi, staf krematorium bukan satu-satunya yang menghadapi kesusahan dan ketidakberdayaan.

Setelah berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk mendapatkan tempat tidur rumah sakit untuk orang yang mereka cintai, anggota keluarga dihadapkan pada penantian yang lama agar pasien Covid-19 yang meninggal bisa dikremasi.

Beberapa rumah sakit dilaporkan menunda penyerahan mayat mengingat betapa kewalahannya krematorium di negara tersebut.

Hemant Jadav, dari negara bagian Gujarat mengatakan bahwa dia harus menunggu lebih dari 12 jam agar jenazah saudara laki-lakinya diserahkan oleh rumah sakit setelah kematiannya.

Berdasarkan data yang dirilis Worldometers hingga Rabu (21/4) total kasus positif Covid-19 di India mencapai 15616.130 orang. Sementara itu, kasus kematian akibat Covid-19 di negara tersebut mencapai 182.570 orang.

Di sisi lain, total kasus sembuh Covid-19 mencapai 13.276.039 orang dan kasus aktif 2.157.521. Hingga saat ini, India menempati urutan kedua setelah Amerika Serikat untuk kasus tertinggi positif Covid-19.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india Virus Corona Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top