Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Langgar Kedaulatan Filipina

Pihak Filipina mengatakan, Beijing menggunakan milisi maritim untuk mengintimidasi, memprovokasi, dan mengancam negara lain.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 05 April 2021  |  07:45 WIB
Laut China Selatan - military.com
Laut China Selatan - military.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kehadiran "milisi maritim" China di dekat terumbu karang Laut China Selatan menunjukkan niat Beijing untuk menduduki lebih banyak wilayah yang disengketakan, kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana kemarin.

China telah "melakukan ini sebelumnya" di wilayah lain yang diperebutkan seperti Scarborough Shoal dan "dengan berani melanggar kedaulatan Filipina," kata Lorenzana.

Dia bereaksi terhadap pernyataan Kedutaan Besar China di Manila yang sebelumnya menggambarkan perairan di sekitar Whitsun Reef, tempat ratusan kapal China terlihat awal bulan lalu, sebagai "tempat penangkapan ikan tradisional" dan "bagian dari Kepulauan Nansha China."

Pernyataan Lorenzana menandakan sikap yang lebih keras dari pemerintah Filipina.

Awalnya, dia mengeluarkan protes diplomatik formal ke China atas masalah tersebut dengan mengatakan bahwa kehadiran kapal China meningkatkan kekhawatiran tentang penangkapan ikan yang berlebihan dan keselamatan navigasi.

Dalam pernyataan terpisah pada Sabtu (3/4/2021), Lorenzana juga membantah tanggapan China sebelumnya bahwa kapal-kapal itu berlindung dari angin, dengan mengatakan cuaca di daerah itu baik seperti dikuutip Bloomberg.com, Senin (5/4/2021).

Filipina, di bawah Presiden Rodrigo Duterte, dalam beberapa tahun terakhir telah membangun hubungan persahabatan dengan China sambil mempertahankan aliansinya dengan ASAS.

Namun, pada akhir Maret Filipina menyatakan keprihatinan atas kehadiran kapal penangkap ikan China di dekat terumbu krang yang disengketakan.

Pihak Filipina mengatakan, Beijing menggunakan "milisi maritim untuk mengintimidasi, memprovokasi, dan mengancam negara lain."

Pada Sabtu (3/4/2021), Lorenzana mengatakan, masih ada 44 kapal China di Whitsun Reef meskipun kondisi cuaca membaik.

"Saya tidak bodoh. Sejauh ini cuaca bagus, jadi mereka tidak punya alasan untuk tinggal di sana," katanya.

Kedutaan Besar China di Manila menanggapi komentar Lorenzana, dengan mengatakan bahwa "sangat normal" bagi kapal China untuk menangkap ikan di daerah tersebut dan berlindung di dekat terumbu selama kondisi laut yang buruk.

Dia menambahkan: "Tidak ada yang memiliki hak untuk membuat pernyataan ceroboh tentang kegiatan seperti itu."

Pengadilan internasional membatalkan klaim China atas 90 persen Laut China Selatan pada tahun 2016, tetapi Beijing tidak mengakui keputusan tersebut dan telah membangun pulau-pulau buatan di perairan sengketa yang dilengkapi dengan radar, baterai rudal, dan hanggar untuk jet tempur.

"Mereka telah (menduduki wilayah yang disengketakan) sebelumnya di Panatag Shoal atau Bajo de Masinloc dan di Panganiban Reef, dengan berani melanggar kedaulatan Filipina dan hak kedaulatan di bawah hukum internasional," kata Lorenzana dalam pernyataannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china filipina laut china selatan
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top