Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5 Asosiasi Arsitek Kritik Desain Istana Negara Garuda di Ibu Kota Baru

Berikut alasan 5 asosiasi arsitek melayangkan kritik atas desain istana negara dengan simbol burung Garuda di Ibu Kota Baru.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  10:17 WIB
Desain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta  -  Twitter
Desain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta - Twitter

Bisnis.com, JAKARTA - Desain rancangan istana negara untuk proyek Ibu Kota Negara (IKN) viral di media sosial beberapa hari terakhir. Isu tersebut mencuat setelah beredar gambar tangkapan layar (screen shot) dari video pendek itu di antaranya memperlihatkan desain istana negara yang menyerupai burung Garuda.

Selain gambar, ada pula video berdurasi sekitar 4 menit itu diawali dengan teks judul "Konsep Desain Istana Negara" bertuliskan, Bandung, 26 Maret 2021. Di bagian bawah video tertulis I Nyoman Nuarta. Desain istana negara yang menyerupai burung Garuda dengan sayap membentang itu yang kemudian menuai ragam komentar di media sosial.

Sedikitnya ada lima asosiasi profesi mengkritik desain tersebut. Kelima asosiasi itu adalah Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).

"Atas publikasi yang disampaikan dalam Instagram Bapak Suharso Monoarfa tersebut, telah mengundang ragam reaksi dari para anggota lintas asosiasi profesi," tulis keterangan resmi lima asosiasi dikutip dari Tempo.co, Rabu (31/3/2021).

Menurut lima asosiasi tersebut, metafora, terutama yang dilakukan secara harafiah dan keseluruhan dalam dunia perancangan arsitektur era teknologi 4.0 adalah pendekatan yang mulai ditinggalkan karena ketidakampuan menjawab tantangan dan kebutuhan arsitektur hari ini dan masa mendatang.

Metafora harafiah yang direpresentasikan melalui gedung patung burung tersebut, menurut mereka, tidak mencerminkan upaya pemerintah dalam mengutamakan forest city atau kota yang berwawasan lingkungan.

"Metafora hanya mengandalkan citra, yang dilakukan secara keseluruhan dapat diartikan secara negatif dikaitkan dengan anatomi tubuh yang dilekatkan dalam metafor," tuli kelima asosiasi tersebut.

Oleh karena itu, lima asosiasi profesi itu menyarankan istana versi burung Garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu yang menjadi tengaran atau landmark pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Mereka juga meminta desain burung Garuda ilepaskan dari fungsi bangunan istana.

Asosiasi pun mengusulkan desain bangunan gedung istana disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun tata ruangnya, termasuk target menjadi model bangunan sehat beremisi nol.

Terkait kepentingan awal pembangunan IKN, asosiasi menilai memulai pembangunan tidak harus melalui bangunan gedung, tetapi dapat melalui Tugu Nol yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap hutan hujan tropis seperti penanaman kembali pohon endemik Kalimantan.

Hal itu juga nantinya bisa menjadi simbol bahwa pembangunan ibu kota baru memang merepresentasikan keberpihakan pada lingkungan.

"Yaitu 'membangun hutan terlebih dahulu baru membangun kotanya' sebagaimana disebutkan dalam konsep sayembara Nagara Rimba Nusa," tertulis dari pernyataan lima asosiasi tersebut.

Sumber: Tempo.co 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ikatan arsitek indonesia istana negara ibu kota negara
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top