Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PM Singapura Minta AS - China Tidak Bikin Sulit Negara Lain

PM Lee berharap tidak perlu memilih satu di antara dua kekuatan besar karena itu tidak mungkin mengingat Singapura memiliki hubungan yang kuat dengan AS dan China.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 14 Maret 2021  |  14:43 WIB
PM Singapura Lee Hsien Loong - Facebook/Lee Hsien Loong
PM Singapura Lee Hsien Loong - Facebook/Lee Hsien Loong

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengungkapkan bahwa AS dan China harus bekerja sama sehingga keduanya dan negara lain tidak berada di situasi yang sulit.

Hal itu disampaikan PM Lee dalam wawancara bersama BBC yang direkam pada dua pekan lalu dan tayang Minggu (14/3/2021).

PM Lee berharap tidak perlu memilih satu di antara dua kekuatan besar karena itu tidak mungkin mengingat Singapura memiliki hubungan yang kuat dengan AS dan China.

China berbeda dengan Uni Soviet pada 1991 karena China memiliki perekonomian yang kuat dan orang-orang penuh energi dan kreatif, kata Lee. Begitu pula dengan AS yang dilanda pergolakan politik, tidak akan mati.

“[AS - China] memiliki vitalitas dan daya tarik yang luar biasa bagi orang-orang di seluruh dunia. Mereka telah bangkit dari kesulitan sebelumnya. Dalam situasi itu, saya pikir kecuali dua kekuatan memutuskan untuk hidup berdampingan, mereka berdua akan berada dalam masa sulit, dan begitu juga kita,” katanya dikutip dari South China Morning Post.

Pada Kamis lalu, parlemen China mengesahkan perubahan sistem Pemilu Hong Kong yang dinilai hanya akan memenangkan patriot yang pro-Beijing. Kebijakan ini dinilai akan mematikan demokrasi Hong Kong.

Sejumlah negara seperti Inggris mengecam keputusan tersebut dan mengatakan tindakan tersebut sebagai ketidakpatuhan terhadap Deklarasi Bersama Sino-Inggris 1984 untuk menentukan masa depan Hong Kong.

Washington juga mengatakan bahwa keputusan tersebut akan menyulitkan Hong Kong. Rencananya, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan diplomat tinggi Yang Jiechi di Alaska, Kamis.

Lee mengatakan keputusan Beijing terhadap Hong Kong telah memberi keuntungan beberapa “teman”, tetapi di saat yang sama juga memanaskan hubungannya dengan kekuatan lain dan negara lainnya.

“[Ada] ketidakpastian dan kecemasan yang signifikan tentang ke mana arah China dan apakah ini akan baik untuk mereka. Saya tidak berpikir itu untuk kepentingan China,” katanya.

Menurut Lee, meski ketegangan antara AS - China lebih panas ketimbang 5 tahun lalu, situasinya belum terlalu parah. Namun, ketegangan hubungan yang tinggi dapat terjadi di kemudian hari.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah menyatakan strategi kebijakan luar negerinya dengan membangun pengaruh di negara-negara berkembang untuk menghadapi AS.

Pada saat Wang fokus ke negara berkembang, Presiden AS Joe Biden tengah berupaya mengumpulkan kekuatan kembali dengan sekutunya dari Quad (Australia, AS, Jepang, dan India) dengan melakukan pertemuan virtual perdana pada bulan ini untuk melawan China.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan berurusan dengan China menjadi ujian terbesar. Dalam pidatonya melalui video, Blinken mengatakan pendekatan dengan China akan kompetitif ketika diperlukan, kolaboratif jika mampu, dan menentang jika diharuskan.

“China adalah satu-satunya negara dengan ekonomi, diplomasi, militer, dan kekuatan teknologi yang benar-benar menguji stabilitas dan sistem internasional terbuka,” ujar Blinken seperti dikutip dari Bloomberg.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat singapura lee hsien loong
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top