Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi Ngomong Benci Produk Asing: Gitu Aja Ramai!

Jokowi mengatakan boleh saja tidak suka dengan produk asing dengan tujuan untuk menciptakan loyalitas konsumen kepada produk-produk dalam negeri.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 05 Maret 2021  |  10:43 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan pers terkait vaksin Covid/19 di Istana Merdeka, Rabu, 16 Desember 2020 / Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan pers terkait vaksin Covid/19 di Istana Merdeka, Rabu, 16 Desember 2020 / Youtube Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) angkat bicara terkait polemik atas pernyataannya yang menyebut masyarakat Indonesia harus mencintai produk dalam negeri dan membenci barang-barang buatan luar negeri.

Jokowi turut menyoroti polemik yang ditimbulkan akibat pernyataannya agar masyarakat membenci produk asing. Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa masyarakat memang seharusnya cinta dan bangga terhadap produk buatan Indonesia.

"Kemarin saya sampaikan untuk cinta produk Indonesia untuk bangga terhadap produk Indonesia dan boleh saja kita untuk tidak suka pada produk asing, masak nggak boleh kita nggak suka, kan boleh saja nggak suka produk asing. Itu saja ramai, saya ngomong benci produk asing itu saja ramai," kata Jokowi dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Nasional XVII Hipmi tahun 2021 di Istana Bogor, Jumat (5/3/2021).

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan boleh saja tidak suka dengan produk asing dengan tujuan untuk menciptakan loyalitas konsumen kepada produk-produk dalam negeri. Namun, untuk mewujudkannya dia menyatakan perlu sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

"Harganya kompetitif dan tentu saja kualitasnya harus baik. Ini dari sisi produsen harus terus diperbaiki kualitasnya, memperbaiki packaging-nya dan desainnya agar bisa mengikuti tren," ujarnya.

Kepala Negara juga minta untuk menghentikan kebiasaan mengimpor sejumlah produk yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri seperti serat rayon, dan impor bijih plastik.

Selain itu, dia juga telah menginstruksikan Kementerian BUMN dan lembaga terkait lainnya untuk memperbesar tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Dia meminta agar proyek-proyek pemerintah dan proyek BUMN tidak terus-terusan memakai barang impor dan beralih kepada produk dalam negeri.

Menurutnya, jika hal itu dapat dilakukan, maka permintaan produk dalam negeri akan naik signifikan.

"Pipa kita sudah produksi banyak masih impor, untuk apa gitu loh. Pada dipakai untuk proyek pemerintah, pada dipakai untuk proyek-proyek BUMN. Kalau saya ngomong nggak boleh gitu, nggak boleh. Dan itu harus dimulai, kita harus benar-benar mulai paling tidak dari pemerintah dan BUMN itu sudah gede sekali angkanya," ungkapnya.

Setelah itu, imbuhnya, pemerintah akan menggalakkan ajakan kepada masyarakat untuk cinta dan bangga pada produk Indonesia dan tidak suka pada produk-produk dari luar.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jokowi menekankan agar branding harus melekat pada pembali agar masyarakat mencintai produk dalam negeri dibandingkan buatan asing. Pasalnya, penduduk Indonesia saat ini menyentuh 270 juta jiwa.

Menurutnya, masyarakat seharusnya menjadi konsumen loyal barang Tanah Air. Selain itu, ajakan-ajakan untuk mencintai produk dalam negeri terus digaungkan. Sebaliknya, barang-barang buatan luar negeri harus dibenci, sehingga masyarakat benar-benar menjadi konsumen loyal untuk produk Indonesia. 

“Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri produk-produk Indonesia harus terus digaungkan. Produk-produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri. Cinta barang kita, benci produk luar negeri,” terangnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi impor
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top