Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Update Covid-19, 2 Maret Penambahan Kasus Positif Menurun

Hari ini, Selasa (2/3/2021) kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia tercatat bertambah 5.712 orang.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 02 Maret 2021  |  17:22 WIB
Vaksin Covid-19 Sinovac beserta jarum suntik terpajang di kawasan Masjid Istiqlal saat vaksinasi di Jakarta, Selasa (23/2/2021). - Antara
Vaksin Covid-19 Sinovac beserta jarum suntik terpajang di kawasan Masjid Istiqlal saat vaksinasi di Jakarta, Selasa (23/2/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Hari ini, Selasa (2/3/2021) kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia tercatat bertambah 5.712 orang.

Sementara itu, kasus sembuh bertambah 8.948 orang, dan kasus meninggal 193 orang.

Dengan demikian secara kumulatif, hingga Selasa (2/3/2021) kasus konfirmasi positif Covid-19 mencapai 1.347.026 orang. Kasus sembuh mencapai 1.160.863 orang, dan kasus meninggal 36.518 orang.

Kasus aktif tercatat mengalami penurunan 3.429 dari data kemarin, menjadi 149.645. Spesimen yang diperiksa juga menurun, menjadi 33.174. Sementara suspek 73.977, lebih tinggi dibandingkan data Senin (1/3/2021) sebanyak 73.434 orang.

Sebelumnya, kondisi wabah Covid-19 di Indonesia awal Maret 2021 ditandai dengan kenaikan kasus positif 6.680.

Sementara kasus sembuh tercatat bertambah 9.212, dan kasus meninggal bertambah 159 orang.

Dengan demikian, secara kumulatif kasus konfirmasi positif mencapai 1.341.314 orang, kasus sembuh 1.151.915 orang, dan kasus meninggal 36.325 orang.

Kasus aktif pada Senin (1/3/2021) tercatat sebanyak 153.074, turun 2.691 dibandingkan Minggu (28/2/2021).

Spesimen yang diperiksa tercatat sebanyak 35.684, sedangkan jumlah suspek mencapai 73.434 orang. 

Sementara itu, dua pekan setelah vaksinasi perdana yang diterima oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada medio Januari 2021 lalu, diikuti oleh kelompok pelayanan publik, tenaga kesehatan, pedagang dan wartawan terlihat tren penurunan kasus harian Covid-19 yang signifikan.

Kendati demikian, sejumlah pakar kesehatan masyarakat menyebut penurunan itu tidak berhubungan langsung dengan kegiatan vaksinasi yang telah berjalan sebulan terakhir.

Malahan, mereka menduga tren itu dibarengi dengan penurunan kemampuan pemeriksaan dan pelacakan kasus konfirmasi positif Covid-19 di tengah masyarakat.

Berdasarkan kurva https://covid19.go.id/peta-sebaran-covid19, tren penambahan kasus harian Covid-19 berada di posisi 8.242 pasien dalam hitungan hari pada 8 Februari 2021.

Satu bulan sebelumnya — 8 Januari hingga 7 Februari 2021, penambahan kasus harian Covid-19 bergerak fluktuatif dengan batas atas mencapai 14.224 pasien dan batas bawah berada di posisi 8.692 orang.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menilai, tidak ada korelasi positif antara kegiatan vaksinasi yang tengah berlangsung dengan tren penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19 harian.

Dicky berpendapat penurunan kasus harian itu menunjukkan gambaran data Covid-19 yang semu di Tanah Air.

Dicky beralasan latar belakang penurunan data kasus harian Covid-19 di Indonesia dibarengi dengan turunnya kapasitas pemeriksaan dan pelacakan kasus konfirmasi positif Covid-19 di tengah masyarakat. Padahal, menurut dia, persentase kasus konfirmasi positif atau positivity rate di Indonesia masih terbilang tinggi sebesar 18,5 persen per 27 Februari 2021.

“Fenomena penurunan ini semu, bisa misinterpretasi dan misleading juga dan misekpektasi dan ini harus diketahui masyarakat dan pemerintah,” kata Dicky melalui pesan suara pada Minggu (28/2/2021).

Dia menegaskan, penurunan kasus itu tidak memiliki kaitan langsung dengan kegiatan vaksinasi Covid-19 di sejumlah kelompok masyarakat terbatas. Pasalnya, hingga saat ini jumlah penerima vaksin Covid-19 pada suntikan pertama sebanyak 1.616.165 orang dan suntikan kedua mencapai 982.370 orang.

“Bahwa vaksin berdampak pada jumlah penurunan kesakitan dan kematian baru pada kelompok kecil ya, capaiannya 0,3 persen dari total populasi belum signifikan,” ujar Dicky.

Herd Immunity

Ihwal kekebalan kawanan atau komunitas (herd immunity) masih belum dapat diukur dengan pasti. Alasannya, suntikan vaksin itu belum memberikan data yang ajeg ihwal tingkat kemanjurannya dalam memutus penularan Covid-19 di tengah masyarakat.

Padahal, tingkat efektifitas itu menjadi standar baku dalam penghitungan proyeksi kekebalan kawanan atau komunitas terbentuk di tengah masyarakat. Selain itu, jumlah vaksinasi yang diberikan mesti sudah mencakup 70 persen dari total populasi.

“Apalagi, kalau efektifitas nanti bervariasi itu tidak akan sederhana bukan hanya menghitungnya tetapi respons immunitasnya itu sendiri kita masih belum tahu,” kata dia.

Menanggapi tren menurunnya kasus harian Covid-19, pihak Kementerian Kesehatan mengatakan data itu disebabkan karena sejumlah intervensi yang diinisiasi oleh pemerintah. Contohnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM dibarengi program vaksinasi pada awal tahun ini.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan untuk Vaksinasi Siti Nadia Tarmizi mengatakan, terlalu dini untuk mengukur efektivitas vaksin dalam penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19 beberapa waktu terakhir.

Alasannya, cakupan vaksin masih terbatas pada sejumlah kelompok profesi tertentu dan masih jauh dari target 70 persen populasi.

“Kalau ini mungkin terlalu dini ya untuk menyimpulkan penurunan kasus akibat vaksin,” kata Nadia melalui pesan tertulis pada Minggu (28/2/2021).

Hanya saja, dia menegaskan, penurunan kasus harian itu dapat ditelusuri dari sejumlah kebijakan intervensi yang telah dikeluarkan pemerintah lewat PPKM dan program vaksinasi tersebut.

“Artinya, ini karena multiintervensi adanya vaksin, adanya PPKM, ini yang bisa berpengaruh terhadap penurunan kasus,” tuturnya.

Presiden Jokowi mendorong percepatan vaksinasi Covid-19 agar kekebalan komunitas (herd immunity) segera terbentuk dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Untuk mewujudkan target tersebut, Presiden Jokowi meminta agar proses vaksinasi dilakukan secara klaster, bukan per invidividu.

“Bukan orang per orang, karena kita ingin melakukan vaksinasi itu klaster, memagari supaya tercapai kekebalan komunal, tercapai herd immunity," kata Jokowi dalam acara Peresmian Pembukaan Acara Munas VI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (11/2/2021).

Jokowi meminta pemerintah daerah segera menyusun perencanaan detail vaksinasi agar program utama penanganan Covid-19 segera rampung dan akhirnya terbentuk kekebalan komunitas minimal 70 persen dari seluruh rakyat Indonesia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19 pasien sembuh COVID-19
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top