Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi Mengaku Malu Sama Negara Asean, Ada Apa Ya?

Masalah kebakaran hutan di Indonesia sempat menjadi pembahasan kawasan saat Karhutla terjadi pada 2015. Saat itu, sekitar 2,6 juta hektare hutan di sejumlah provinsi terbakar.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 22 Februari 2021  |  17:57 WIB
Presiden Joko Widodo saat memberi keterangan pers terkait bencana banjir di Kalimantan Selatan, Senin 18 Januari 2021 /Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo saat memberi keterangan pers terkait bencana banjir di Kalimantan Selatan, Senin 18 Januari 2021 /Youtube Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan rasa malu saat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dibahas dalam pertemuan tahunan negara Asean. Kendati demikian, kini isu tersebut tidak lagi tidak dibahas dalam agenda kawasan.

“Jangan sampai kita ini malu, di Asean Summit dalam pertemuan negara Asean, membicarakan lagi soal ini [kebakaran hutan]. Dalam lima tahun ini sudah nggak ada [dibahas]. Jangan sampai dibuat ada lagi, malu kita. Dipikir kita tidak bisa selesaikan masalah ini,” kata Jokowi saat Rakornas di Istana Negara, Senin (22/2/2021).

Kebakaran hutan di Indonesia sempat menjadi pembahasan kawasan saat Karhutla terjadi pada 2015. Saat itu setidaknya 2,6 juta hektare hutan dan lahan di sejumlah provinsi terbakar.

Kebakaran di Pulau Sumatra dan Kalimantan juga berdampak pada negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dua negara tersebut selama beberapa waktu mengalami kabut asap yang berasal dari Karhutla di Tanah Air.

Setelah peristiwa tersebut, pemerintah mulai menggelar Rakornas tahunan untuk penanganan Karhutla di sejumlah wilayah yang berpotensi menimbulkan titik api. Antisipasi ini turut menekan kian meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

“Tadi sudah disampaikan Pak Menko [Polhukam Mahfud MD] bahwa [luas kebakaran 2020 dibandingkan 2015] sudah turun 88 persen. Kalau bisa ditingkatkan lagi angka itu,” ujarnya.

Dia mengingatkan pada Februari ini, Pulau Sumatra berpotensi terjadi Karhutla karena sebagian wilayahnya mulai mengalami panas tinggi. Selain itu, sebagian Kalimantan dan Sulawesi juga berpotensi terjadi kebakaran pada Mei - Juli 2021.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jokowi memperkirakan puncak potensi kebakaran hutan terjadi pada Agustus - September.

“Kita harus tahu betul puncaknya kapan. Sehingga persiapannya apa dimulai dari sekarang. Planning disiapkan. Organisasinya dicek betul sudah bekerja atau tidak pada saat betul-betul panas kita sudah siap semua,” ujarnya.

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan bahwa Karhutla telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada awal 2021. Aceh tercatat 3 kejadian Karhutla di awal tahun, Sumatra Utara 9 kejadian, Riau 29 kejadian.

Kemudian, Kepulauan Riau 4 kejadian, Jambi 2 kejadian, Sumatra Selatan 5 kejadian, Kalimantan Barat 52 kejadian, Kalimantan Tengah 12 Kejadian, Sulawesi Tenggara 20 kejadian dan Papua sebanyak satu kali kejadian Karhutla.

Sementara itu, dia menyebutkan bahwa pemerintah berhasil menekan luas area kebakaran hutan hingga 88 persen pada 2020 jika dibandingkan dengan 2015. Namun, dia meminta semua pihak tidak lengah.

“Jangan sampai membuat kita semua lengkah. Seluruh stakeholder tetap siaga melaksanakan pengendalian Karhutla mulai dengan meningkatkan koordinasi, konsolidasi dan juga melakukan langkah inovasi terutama dalam monitoring cuaca sepanjang tahun khususnya deteksi awan dan ritme hujan dengan teknologi modifikasi cuaca,” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi asean kebakaran hutan Karhutla
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top