Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cuaca Ekstrem Sebabkan Krisis Listrik di Amerika Serikat

Cuaca dingin yang ekstrem telah menyebabkan produksi energi terhenti, dengan lebih dari satu juta barel minyak per hari dan 10 miliar kaki kubik produksi gas, ditutup. Sementara itu, jaringan pipa juga mandek karena keadaan luar biasa itu dan kilang besar telah menghentikan produksi bensin dan solar.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  11:46 WIB
Cuaca ekstrem melanda Amerika Serikat yang berdampak pada penurunan produksi minyak dan mengganggu ketersediaan pasokan listrik.  - Bloomberg
Cuaca ekstrem melanda Amerika Serikat yang berdampak pada penurunan produksi minyak dan mengganggu ketersediaan pasokan listrik. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Krisis energi yang melumpuhkan sistem kelistrikan Texas, Amerika Serikat, telah menyebabkan harga energi melonjak ke level rekor. Setidaknya 5 juta warga di seluruh AS bergiliran mengalami pemadaman untuk menghindari lumpuhnya keseluruhan jaringan listrik.

Cuaca dingin yang ekstrem telah menyebabkan produksi energi terhenti, dengan lebih dari satu juta barel minyak per hari dan 10 miliar kaki kubik produksi gas, ditutup. Sementara itu, jaringan pipa juga mandek karena keadaan luar biasa itu dan kilang besar telah menghentikan produksi bensin dan solar.

Rumah dan bisnis di North Dakota hingga Texas kehilangan daya di tengah cuaca dingin ekstrem dan suhu harian di banyak tempat mencatatkan rekor. Manajer jaringan tidak dapat mengatakan dengan tepat kapan pemadaman akan berakhir dengan perkiraan cuaca dingin akan tetap berlangsung hingga Rabu esok.

Pusat-pusat medis bergegas untuk memberikan vaksin sebelum keadaan menjadi buruk. Presiden AS Joe Biden menyetujui deklarasi darurat untuk Texas, menyediakan lebih banyak sumber daya untuk membantu.

“Saya telah mengikuti pasar energi dan masalah jaringan untuk sementara waktu, dan saya tidak dapat mengingat peristiwa cuaca ekstrem yang berdampak pada sebagian besar negara dengan cara ini - situasinya kritis,” kata Neil Chatterjee, anggota Komisi Pengaturan Energi Federal AS, dilansir Bloomberg, Selasa (16/2/2021).

Kejadian ini merupakan yang terbaru dari rangkaian peristiwa cuaca ekstrem yang telah meruntuhkan jaringan listrik dan meningkatkan pasar energi secara global dari Jepang hingga Pakistan dan Prancis dalam beberapa bulan terakhir.

Serangkaian kejadian itu menggarisbawahi betapa rentannya dunia dalam menghadapi cuaca yang semakin tidak terduga yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Berdasarkan data pemadaman listrik yang dikumpulkan Poweroutage.us, lebih dari 4,3 juta rumah dan bisnis tak dialiri listrik di Texas kemarin. Sebanyak 400.000 pemadaman lain juga terjadu di sejumlah negara bagian yang membentang dari Louisiana ke Ohio dan Virginia. Adapun lebih dari 300.000 pemadaman melanda Oregon, dan bahkan pinggiran kota New York City terpengaruh, dengan hampir 24.000 pemadaman di Sussex County, New Jersey.

Di Meksiko, lebih dari 4,7 juta rumah dan bisnis menjadi gelap setelah kelangkaan Texas memicu kegagalan berjenjang. Namun sekitar 65 persen dari mereka yang terkena dampak di Meksiko telah melihat listrik mereka pulih pada tengah hari.

Dinas Cuaca Nasional mengarakan sementara suhu diperkirakan akan naik, AS akan tetap dilanda dingin yang ekstrem minggu ini. Dallas, yang diperkirakan akan mencapai suhu paling rendah, minus 17 derajat Celcius pada Senin malam, akan mencapai suhu tertinggi 29 derajat pada Rabu.

Kondisi cuaca seperti itu sangat jarang terjadi, terutama di beberapa bagian Texas. Di Houston, kota terbesar di negara bagian itu, jalanan menjadi beku dan orang-orang melewati antrean panjang untuk mengisi ulang tabung propana rumah tangga. Lampu lalu lintas dan jalan mati. Kayu bakar sudah habis terjual. Toko bahan makanan juga telah kehabisan kebutuhan pokok termasuk susu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat cuaca ekstrem musim dingin

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top