Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

'Pasal Karet', Fraksi-NasDem: Sudah Saatnya UU ITE Dikaji Ulang

Pasal-pasal karet dan pasal-pasal overkriminalisasi bisa menyasar siapa pun, ini merugikan persahabatan demokratis kita.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  12:45 WIB
Ilustrasi - Buni Yani (kanan), terpidana kasus UU ITE - Antara/Reno Esnir
Ilustrasi - Buni Yani (kanan), terpidana kasus UU ITE - Antara/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA - Kondisi yang terjadi belakangan ini dinilai menjadi momen yang tepat untuk mengkaji ulang undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.

Seperti diketahui, dalam proses pembuatan dan ketika resmi menjadi undang-undang aturan tentang ITE ini sudah melahirkan pro dan kontra. 

Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Willy Aditya menilai tepat rencana pemerintah mengkaji ulang Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menurut Willy, Fraksi NasDem mendapatkan banyak masukan dari organisasi masyarakat sipil terkait implementasi UU ITE yang banyak menimbulkan persoalan.

"Kami menilai ada situasi yang memang memerlukan penyesuaian UU ITE. Makin naiknya tren saling lapor, pemidanaan pendapat dan pikiran, dan kejahatan internet, memang sudah saatnya melakukan kajian ulang UU ITE," kata Willy di Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Langkah revisi itu menurut dia penting, apalagi sebentar lagi RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang sebagian napasnya ada di UU ITE, juga akan segera selesai.

Willy yang juga Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI akan menunggu inisiatif revisi UU ITE menjadi kenyataan karena bisa pemerintah atau DPR yang mengirimkan drafnya.

"Satu hal yang menjadi pijakan NasDem adalah norma dan sopan santun yang dahulu hidup dan melingkupi kita harus tetap dijaga," ujarnya.

Menurut Willy, yang dirugikan dari fenomena saling lapor, pemidanaan pikiran dan pendapat adalah masyarakat yang sudah susah payah membangun situasi demokratisasi.

Ia menegaskan bahwa demokratisasi tersebut harus terus dijaga dan membudayakan dialog publik sebagai mekanisme penyelesaian masalah.

"Pasal-pasal karet dan pasal-pasal overkriminalisasi bisa menyasar siapa pun, ini merugikan persahabatan demokratis kita. Pasal-pasal tersebut yang urgen, perlu direvisi segera dengan tetap mempertimbangkan pentingnya sopan santun dan kebijaksanaan menggunakan media digital," katanya.

Willy berharap komunikasi dan dialog antarwarga negara makin terselenggara dengan sehat dan konstruktif, serta masyarakat juga makin sedikit pemidanaan atas kebebasan berekspresi dan berpendapat yang sesuai dengan norma kesopanan dan kemanusiaan.

Wakil rakyat ini menilai hoaks, fitnah, dan pencemaran nama baik bisa dilawan dengan budaya komunikasi positif dan perangkat hukum yang adaptif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr nasdem kriminalisasi uu ite

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top