Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Politisi Gerindra Sindir 'Oposisi Kardus' yang Mungkin Juga Pakai Buzzer

Melalui akun Twitter resminya, politisi Gerindra ini menilai bahwa kemungkinan yang memanfaatkan buzzer bukan hanya penguasa, tetapi juga oleh 'oposisi kardus'.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 11 Februari 2021  |  10:44 WIB
Ilustrasi media sosial - Reuters/Beawiharta
Ilustrasi media sosial - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Habiburokhman turut mengomentari tema buzzer atau pendengung yang ramai diperbincangkan warganet belakangan ini.

Melalui akun Twitter resminya, @habiburokhman, Kamis (11/2/2021) 08.57 WIB, anggota Komisi Hukum DPR dari Fraksi Gerindra ini menilai bahwa kemungkinan yang memanfaatkan pendengung bukan hanya pemerintah yang berkuasa, melainkan juga digunakan oleh oposisi.

Dia secara spesifik menyebut 'opisisi kardus' yang dinilainya gagal menyejahterakan masyarakat kendati pernah berkuasa.

"Logika gua, yg mungkin pake buzzer bukan hanya penguasa tetapi juga oposisi kardus yg pernah berkuasa tapi gagal sejahterakan umat, yg waktu berkuasa nangkap ulama, yg ngiler mau kuasa kembali dgn nunggangi perjuangan umat. Bisa aja maling teriak maling /buzzer teriak buzzer," tulis Habiburokhman di akun Twitternya.

Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar Andre Rosiade menanggapi cuitan rekan partainya tersebut. "Satu lagi bang. Pemilu itu di Dunia Nyata bukan di Medsos. Mereka koar2 di Medsos. Tapi enggak turun ke Lapangan he...he...he."

Sebelumnya, Habiburokhman juga menunggah komentar terkait buzzer pada akun yang sama. Menurutnya, dia tak pernah merasa terganggu dan tak pernah takut dengan pendengung yang menyerangnya.

"Sejak dahulu hingga saat ini di DPR gua tetap rajin kritik pemerintah (Check aja jejak digital), tapi gua gak pernah merasa terganggu dan gak pernah takut sama buzzer yg nyerang gua. mnrt gua mrk juga punya hak berpendapat juga walaupun bertentangan dengan gua," demikian unggahannya pada Rabu (10/2/2021) pukul 23.01 WIB.

Dia menilai yang lebih penting adalah tidak ada upaya mengkriminalkan aktivitas kritik yang tidak mengandung fiitnah. "...kalau kita gak suka dengan buzzer ya jangan baca coment mereka, simpel banget," tulisnya.

Berdasarkan pantauan Bisnis, Kamis (11/2/2021) 10.30 WIB, buzzer masuk daftar trending topics di Twitter dengan 40.000 kali disebutkan di jejaring media sosial tersebut.

Sebelumnya, aktivitas buzzer atau pendengung di media sosial itu memang menjadi sorotan sejumlah tokoh publik. Kehadiran pendengung dengan akun anonim disebut meresahkan lantaran menyerang warganet yang kritis, mengeluarkan kata-kata kasar dan bahkan mengumbar permasalahan pribadi warganet.

Para tokoh publik itu berharap adanya gerakan untuk menertibkan buzzer di media sosial, khususnya para pendengung yang ingin memanfaatkan situasi tanpa ingin bertanggung jawab.

Salah satu tokoh masyarakat yang mengeluhkan kehadiran buzzer adalah Sudjiwo Tedjo. Budayawan ini berharap para buzzer ditertibkan.

“Tertibkan buzzer” dan “tertibkan buzzer penumpang gelap” itu beda .. itu bukan buzzer teriak buzzer. Kritik dan caci maki itu beda. Kritik isinya pendapat/sikap tanpa menyerang pribadi siapa pun. Twitmu harusnya: Tukang kritik tak mau dicaci maki," demikian unggahan  akun @sudjiwotedjo, Rabu (10/2/2021).

Senada dengan Sudjiwo Tedjo, Ketua Umum PP Muhammadiyah kantor Yogyakarta Haedar Nashir sehari sebelumnya memperingatkan bahaya buzzer. Bertepatan dengan Hari Pers Nasional kemarin, dia mengatakan bahwa pendengung merupakan musuh terbesar dunia pers.

"Musuh terbesar dunia pers saat ini, khususnya pers online melalui jalur media sosial, ialah para buzzer yang nirtanggungjawab kebangsaan yang cerdas dan berkeadaban mulia," jelas Haedar melalui akun Twitter @HaedarNs.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

twitter gerindra oposisi Buzzer
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top