Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tokoh Publik 'Gerah', Minta Buzzer Ditertibkan dari Media Sosial

Mulai dari budayawan Sudjiwo Tedjo, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Politisi Benny K Harman, hingga ekonom senior Kwik Kian Gie mengeluhkan ulah buzzer.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 10 Februari 2021  |  14:17 WIB
Ilustrasi media sosial - Reuters/Beawiharta
Ilustrasi media sosial - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - Aktivitas buzzer atau pendengung di media sosial menjadi sorotan sejumlah tokoh publik. Kehadiran pendengung dengan akun anonim disebut meresahkan lantaran menyerang warganet yang kritis, mengeluarkan kata-kata kasar dan bahkan mengumbar permasalahan pribadi warganet.

Para tokoh publik itu berharap adanya gerakan untuk menertibkan buzzer di media sosial, khususnya para pendengung yang ingin memanfaatkan situasi tanpa ingin bertanggung jawab.

Salah satu tokoh masyarakat yang mengeluhkan kehadiran buzzer adalah Sudjiwo Tedjo. Budayawan ini berharap para buzzer ditertibkan.

“Tertibkan buzzer” dan “tertibkan buzzer penumpang gelap” itu beda .. itu bukan buzzer teriak buzzer. Kritik dan caci maki itu beda. Kritik isinya pendapat/sikap tanpa menyerang pribadi siapa pun. Twitmu harusnya: Tukang kritik tak mau dicaci maki," demikian unggahan  akun @sudjiwotedjo, Rabu (10/2/2021).

Senada dengan Sudjiwo Tedjo, Ketua Umum PP Muhammadiyah kantor Yogyakarta Haedar Nashir sehari sebelumnya memperingatkan bahaya buzzer. Bertepatan dengan Hari Pers Nasional kemarin, dia mengatakan bahwa pendengung merupakan musuh terbesar dunia pers.

"Musuh terbesar dunia pers saat ini, khususnya pers online melalui jalur media sosial, ialah para buzzer yang nirtanggungjawab kebangsaan yang cerdas dan berkeadaban mulia," jelas Haedar melalui akun Twitter @HaedarNs.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR Benny K. Harman melalui unggahan di akun Twitter resminya, @BennyHarmanID, Selasa (9/2/2021), juga menyoroti cyber army atau pendengung yang kerap meneror netizen.

Dia menyoroti hal itu dengan membahas serangan buzzer kepada ekonom senior Kwik Kian Gie beberapa waktu lalu. Dia pun berharap para pendengung anonim itu ditertibkan.

"Ttg Kwik Kian Gie Yg Takut Kritik Rezim. Kita minta bubarkan saja cyber army karena kerap meneror netizen. Pelakunya anonim namun penyebaran konten2 mereka sering dibantu akun2 pribadi yg berafiliasi dgn pemerintah. Yg kritik rezim dibuly habis2an.Liberte!" tegas politisi Demokrat tersebut.

Sebelumnya, melalui unggahannya di Twitter, Kwik Kian Gie mengaku diganggu oleh para buzzer di media sosial yang mengumbar permasalahan pribadinya. Kwik Kian Gie pun membandingkan dengan kondisi kebebasan berpendapat pada era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Menurutnya, saat itu dia diberi kolom di sebuah harian nasional untuk mengajukan kritik-kritik yang tajam tanpa ada masalah yang muncul setelahnya.

"Saya belum pernah setakut saat ini mengemukakan pendapat yg berbeda dng maksud baik memberikan alternatif. Langsung saja di-buzzer habis2an, masalah pribadi diodal-adil. Zaman Pak Harto saya diberi kolom sangat longgar oleh Kompas. Kritik2 tajam. tidak sekalipun ada masalah," demikian tulisnya melalui akun Twitter @kiangiekwik.

Dalam unggahan sebelumnya, Kwik Kian Gie tampak beradu pendapat dengan Yustinus Prastowo, Staf Ahli Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, terkait tema utang negara. Keduanya tampak saling berbalas unggahan di Twitter terkait tema tersebut dan diramaikan dengan komentar warganet.

Eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti turut mengomentari unggahan Kwik Kian Gie yang mengeluhkan kondisi kebebasan berpendapat tersebut. Susi tampak menyetujui pendapat Kwik Kian Gie tersebut.

Selain itu, Susi juga turut merespons unggahan terbaru Kwik Kian Gie yang menyebut bahwa dia tak nyaman dengan kata kasar yang dilontarkan buzzer.

Kwik Kian Gie lantas memberikan klarifikasi terkait diksi 'takut' yang ditulisnya dalam unggahan di media sosial Twitter, Sabtu (6/2/2021) pukul 12.20 WIB.

Mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi dan Industri di era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid ini memberikan penjelasan atas kata 'takut' yang dipilihnya itu kurang tepat, sebab dia ingin mendeskripsikan rasa tidak nyaman dengan kata kasar dan kotor yang dikeluarkan para pendengung atau buzzer di media sosial.

"Sorry, pilihan kata kurang tepat. Bukan "takut" di-bully oleh para buzzer, dan juga bukan "takut" dikritik sekeras apaun, tapi RASA SANGAT TIDAK NYAMAN DNG KATA2 KASAR DAN KOTOR. Akan aku coba juga ikut2an pakai kata "shit" dan sejenisnya. Pingin ikut arus zaman now," demikian unggahan Kwik Kian Gie.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Buzzer Haedar Nashir Sudjiwo Tedjo
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top