Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Karya Gus Mus Dicatut 'Serang' FPI, Ini Sejumlah Puisinya

Hal itu, menyusul adanya keberatan dari keluarga Gus Mus keberatan terhadap pencatutan nama maupun karya seni utamanya untuk kepentingan politik praktis bernuansa adu domba.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 14 Desember 2020  |  15:40 WIB
Karya Gus Mus Dicatut 'Serang' FPI, Ini Sejumlah Puisinya
Gus Mus - Youtube
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nama Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus tiba-tiba saja menjadi hangat diperbincangkan. 

Hal itu, menyusul adanya keberatan dari keluarga Gus Mus keberatan terhadap pencatutan nama maupun karya seni utamanya untuk kepentingan politik praktis bernuansa adu domba.

Putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, pencatutan karya orang tuanya paling baru berupa penggabungan suara puisi Allohu Akbar dengan video demonstrasi FPI.

"Puisi abah itu universal sifatnya, tidak ditujukan untuk kelompok tertentu. Dengan menggabungkan audio Abah dan rekaman seperti ini, artinya sengaja mengadu domba," tulis Ienas, dikutip Bisnis, Minggu (13/12/2020).

Nama Gus Mus memang dikenal sebagai sastrawan dan juga budayawan. Dia lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.

Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Disamping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair.

Selain puisi Allahu Akbar, banyak puisi karya Gus Mus lainnya yang juga dikenal masyarakat. Berikut beberapa di antaranya dikutip dari gusmus.net:

Ibu

Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu 
sekian lama
Kaulah kawah
darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku 
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir 
membasahi dahagaku 
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku

Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku 
mencari jejak sorga
di telapak kakimu

(Tuhan,

aku bersaksi

ibuku telah melaksanakan amanat-Mu

menyampaikan kasih sayangMu

maka kasihilah ibuku

seperti Kau mengasihi

kekasih-kekasihMu

Amin)

Bagaimana

Bagaimana kau hendak menulis puisi dengan apa?
Huruf-huruf dan kata-kata telah aus
Digunakan terus menerus
Oleh tikus-tikus yang rakus
Meruapkan bau kakus

Bagaimana kau hendak menulis dengan apa?
Orang-orang tak bersukma
Yang nuraninya matirasa
Terus menerus mempergunkannya
Untuk menyembunyikan borok mereka

Bertapa sajalah
Seperti rumput
Bersama rumput
Siapa tahu esok pagi
Burung-burung bersedia lagi
Mengajari menyanyi
Sementara kalian berbagi
Embun pagi

Gandrung

o, damaiku, o resahku
o teduhku, o terikku
o gelisahku, o tentramku
o, penghiburku, o fitnahku
o harapanku, o cemasku
o tiraniku,
selama ini
aku telah menghabiskan umurku
untuk entah apa. di manakah
kau ketika itu, o, kekasih ?
mengapa kau tunggu hingga
aku lelah
tak sanggup lagi
lebih keras mengetuk pintumu
menanggung maha cintamu ?
benarkah
kau datang kepadaku
o, rinduku,
benarkah ?

Guruku

Ketika aku kecil dan menjadi muridnya

Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar

Ketika aku besar dan menjadi pintar

Kulihat dia begitu kecil dan lugu

Aku menghargainya dulu

Karena tak tahu harga guru

Ataukah kini aku tak tahu

Menghargai guru?

Aku Melihatmu

aku melihatmu
tersenyum bersama embun pagi
aku melihatmu
bernyanyi bersama burung-burung
aku melihatmu
bergerak bersama mentari bersama angin dan mega-mega
aku melihatmu
terbang bersama sekumpulan burung gereja
aku melihatmu
berenang bersama ikan-ikan dan lumba-lumba

aku melihatmu
meratap bersama mereka yang kelaparan
aku melihatmu
merintih bersama mereka yang kehausan
aku melihatmu
mengaduh bersama mereka yang kesakitan

aku melihatmu
berdendang bersama ibu yang meninabobokkan anaknya
aku melihatmu
melangkah bersama hamba yang berjuang menggapai citanya

aku melihatmu dalam gelap
aku melihatmu dalam terang
aku melihatmu dalam ramai
aku melihatmu dalam senyap
aku melihatmu
kau melihatku.

Mulut

Di mukamu ada sebuah rongga
Ada giginya ada lidahnya
Lewat rongga itu semua bisa
kau masukkan ke dalam perutmu

Lewat rongga itu semua bisa kau tumpahkan
Lewat rongga itu air liurmu bisa
meluncur sendiri

Dari rongga itu
Orang bisa mencium bau apa saja
Dari wangi anggur hingga tai kuda

Dari rongga itu
Mutiara atau sampah bisa masuk bisa keluar
Membuat langit cerah atau terbakar

Dari rongga itu
mata air jernih bisa kau alirkan
Membawa kesejukan kemana-mana

Dari rongga itu
Kau bisa menjulurkan lidah api
Membakar apa saja

Dari rongga itu
Bisa kau perdengarkan merdu burung berkicau
Bisa kau perdengarkan suara bebek meracau

Dari rongga itu
Madu lebah bisa mengucur
Bisa ular bisa menyembur

Dari rongga itu
Laknat bisa kau tembakkan
pujian bisa kau hamburkan

Dari rongga itu
Perang bisa kau canangkan
Perdamaian bisa kau ciptakan

Dari rongga itu
Orang bisa sangat jelas melihat dirimu

Rongga itu milikmu
Terserah
kau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

puisi gus mus
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top