Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Percepat Unifikasi dengan Korea Utara, Korea Selatan Rombak Pejabat Kemlu

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menunjuk mantan diplomat yang menangani Korea Utara sebagai sekretaris presiden untuk kebijakan. Pergantian pejabat tersebut dinilai sebagai upaya presiden untuk mendorong percepatan unifikasi dengan Korea Utara.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 28 November 2020  |  08:36 WIB
Kepala delegasi Korea Utara Ri Son Gwon, Ketua Komite Reunifikasi Damai Negara (CPRC) DPRK, disambut oleh seorang pejabat Korea Selatan saat ia melintasi perbatasan beton untuk menghadiri pertemuan mereka di desa Panmunjom di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, Korea Selatan (9/1/2018) - REUTERS
Kepala delegasi Korea Utara Ri Son Gwon, Ketua Komite Reunifikasi Damai Negara (CPRC) DPRK, disambut oleh seorang pejabat Korea Selatan saat ia melintasi perbatasan beton untuk menghadiri pertemuan mereka di desa Panmunjom di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, Korea Selatan (9/1/2018) - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengganti salah satu pejabat utama yang menangani urusan luar negeri dan diplomasi jelang perombakan Kabinet. Presiden Moon dinilai bakal fokus mempercepat unifikasi dengan Korea Utara menjelang masa jabatannya berakhir.

Melansir The Korea Times pada Sabtu (28/11/2020), Moon Jae-in menunjuk Kim Yong-hyon sebagai sekretaris presiden untuk kebijakan. Kim Yong-hyon adalah mantan kepala Biro Rezim Perdamaian Semenanjung Korea di Kementerian Luar Negeri.

Kim Yong-hyon menggantikan Park Chul-min yang ditunjuk sebagai duta besar untuk Hongaria setelah bertugas di kantor kepresidenan sejak Maret 2019.

Sekretaris presiden untuk kebijakan luar negeri di bawah National Security Office (NSO) adalah salah satu jabatan penting yang bertugas merumuskan kebijakan luar negeri.

Pilihan Presiden untuk menunjuk seorang diplomat karir dengan pengalaman menangani Korea Utara untuk jabatan tersebut dipandang mencerminkan fokus Moon untuk mempercepat unifikasi Korea. Padahal, jabatan Moon Jae-in akan berakhir dua tahun lagi.

Akan tetapi momentum untuk mendorong urusan kenegaraan diperkirakan akan berakhir jauh sebelumnya dengan pemilihan presiden yang menjadi perhatian publik penuh tahun depan.

Presiden Moon Jae-in memang belum menyebut deklarasi untuk mengakhiri Perang Korea sejak kemenangan pemilihan Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Tapi dia tetap aktif mendorong proposal lain untuk memulihkan hubungan dengan Korea Utara kembali ke tingkat awal masa kepresidenannya, yaitu menjelang dan setelah Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018.

Selain itu, Moon Jae-in telah mencoba menarik perhatian China atas proposalnya untuk menciptakan prakarsa kerja sama Asia Timur Laut. Ini adalah salah satu topik selama pertemuannya dengan Penasihat Negara China dan Menteri Luar Negeri Wang Yi di Cheong Wa Dae, Kamis, menurut kantor kepresidenan.

Awal pekan ini, Moon Jae-in juga mengalihkan utusan Korea ke Jepang untuk menunjukkan tekadnya yang kuat untuk terobosan nyata dalam hubungan bilateral tahun depan.

Moon Jae-in memilih Kang Chang-il, mantan anggota parlemen Partai Demokratik Korea (DPK) yang berkuasa selama empat periode dan mantan pemimpin Serikat Parlemen Korea-Jepang.

"Dengan peluncuran Kabinet baru di Jepang, pengangkatan tersebut mencerminkan tekad Presiden untuk menyelesaikan hubungan Korea-Jepang," kata seorang pembantu presiden kepada wartawan.

Ini adalah pertama kalinya bagi Moon Jae-in menunjuk seorang politisi ke jabatan tersebut, daripada seorang diplomat karir atau pakar hubungan internasional.

Menyusul transisi yang tiba-tiba, muncul spekulasi media bahwa Presiden mungkin mempertimbangkan Nam sebagai pengganti Menteri Luar Negeri Kang Kyung-wha di masa depan.

Nam melayani di Jepang selama fase awal karirnya di pelayanan. Dia juga dikenal memiliki hubungan khusus dengan Presiden, setelah menjabat sebagai wakil direktur kedua NSO sebelum diangkat sebagai duta besar Korea kedua untuk Jepang pada Mei 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Korea Utara korea selatan
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top