Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perlukah FPI Jadi Parpol? Pengamat: Karakteristik dan Wataknya Berbeda

Dalam negara demokrasi, perlu ada kekuatan semacam FPI. Ketika kekuatan-kekuatan politik tidak berdaya, maka harus ada kekuatan di luar politik partai untuk mengingatkan jalannya negara agar sesuai jalur.
Setyo Aji Harjanto
Setyo Aji Harjanto - Bisnis.com 22 November 2020  |  13:37 WIB
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab - Antara
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Dorongan agar FPI atau Muhammad Rizieq Shihab masuk dalam politik praktis mengemuka belakangan ini.

Namun, menurut pengamat politik dari Univeristas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun, Front Pembela Islam tidak cocok bila harus masuk dalam ranah politik praktis.

FPI, ujar Ubed, tidak cocok jika mengusung Rizieq Shihab sebagai capres atau menjadi partai politik.

"Karena wataknya berbeda, karakteristik FPI dengan partai politik itu berbeda," kata Ubed kepada Bisnis, Minggu (22/11/2020).

Menurut dia, posisi FPI, dalam terminologi yang diyakini Rizieq Shihab cs. memiliki peran untuk menjalankan nahi mungkar, atau memerangi ketidakadilan dan kemaksiatan.

Di sisi lain, ucap Ubed, parpol adalah institusi yang akomodatif terhadap ruang-ruang ketidakadilan di dalam pengambilan keputusan.

"FPI enggak bisa melakukan praktik politis dalam ranah kepartaian, jadi menurut saya, biarkan ada ruang yang diisi oleh FPI untuk mengingatkan secara terang-terangan dalam praktik bernegara yang berseberangan dengan kepentingan rakyat banyak," katanya.

Menurut Ubed, dalam negara demokrasi, perlu ada kekuatan semacam FPI. Pasalnya, kata Ubed, ketika kekuatan-kekuatan politik tidak berdaya, maka harus ada kekuatan di luar politik partai untuk mengingatkan jalannya negara agar sesuai jalur.

Keberadaan FPI sebagai ormas, lanjut dia, tetap diperlukan untuk membangun keseimbangan demokrasi.

Hanya saja, kata Ubed, cara penyampaian FPI perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat lebih diterima publik.

"Tapi yang perlu dikritik dari FPI narasi-narasi yang diungkapkan ke arena publik, mesti disampaikan dengan bahasa yang lebih diterima, dengan bahasa yang based on data," katanya.

Sebelumnya, pengamat militer dan politik Universitas Padjadjaran Muradi menyarankan agar Front Pembela Islam (FPI) membuat partai politik.

Menurut Muradi, jika FPI dinilai sudah memiliki kekuatan politik alangkah baiknya ormas yang dikomandoi Rizieq Shihab itu membuat parpol.

"Toh, kalau memang FPI punya power mengendalikan politik, bikin partai saja," ucap Muradi.

Opsi lain, lanjut Muradi FPI bisa juga mengusung Rizieq Shihab sebagai calon presiden. Hal ini, lanjut Muradi, lebih baik dilakukan agar FPI mempunyai saluran politik.

"Supaya apa, ada saluran politik, jadi kalau kemudian sekarang dukung gak jelas, endorse orang lain, jadi bikin gaduh aja," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fpi habib rizieq
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top