Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Keluar dari Zona Euro, Inggris dan Kanada Segera Teken Perjanjian Dagang Baru

Tanpa perjanjian baru ini, Inggris dan Kanada akan menghadapi tarif perdagangan mulai 1 Januari, ketika periode transisi Brexit berakhir dan Inggris tidak lagi menjadi bagian dari CETA, perjanjian perdagangan UE-Kanada yang mulai berlaku pada 2017.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 19 November 2020  |  10:09 WIB
Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson ketika memberikan keterangan di luar kantornya di 10 Downing Street di London, Inggris, Senin (27/4/2020). - Bloomberg/Simon Dawson
Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson ketika memberikan keterangan di luar kantornya di 10 Downing Street di London, Inggris, Senin (27/4/2020). - Bloomberg/Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Selangkah lagi, Inggris dan Kanada akan melakukan penandatanganan perjanjian perdagangan baru untuk menggantikan kesepakatan sebelumnya yang mencakup Negeri Ratu Elizabeth ini dalam kesatuan Uni Eropa.

Perjanjian bilateral tersebut akan menjadi pendorong utama bagi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam upayanya untuk merencanakan jalan baru bagi Inggris sebagai negara perdagangan global di luar Uni Eropa (UE).

Penandatanganan ini diharapkan dapat dilakukan dalam beberapa hari ke depan, menurut sumber yang dekat Bloomberg.

Tanpa perjanjian baru ini, Inggris dan Kanada akan menghadapi tarif perdagangan mulai 1 Januari, ketika periode transisi Brexit berakhir dan Inggris tidak lagi menjadi bagian dari CETA, perjanjian perdagangan UE-Kanada yang mulai berlaku pada 2017.

Perdagangan antara Kanada dan Inggris memiliki nilai sekitar 17 miliar pound (US$23 miliar) pada tahun 2019.

"Pembicaraan perdagangan berada pada tahap lanjutan dan berkembang dengan baik," kata Departemen Perdagangan Internasional Inggris dalam sebuah pernyataan.

"Inggris berkomitmen untuk mengupayakan keberlanjutan kesepakatan perdagangan dengan Kanada sebelum akhir masa transisi."

Terobosan Kanada akan melegakan Inggris yang tengah melanjutkan pembicaraan kontroversial dengan UE, mitra dagang terbesarnya.

Pembicaraan dengan UE ini terkait dengan hubungan ekonomi masa depan mereka sendiri. Diskusi tersebut bisa membuahkan hasil paling cepat minggu depan, tetapi negosiasi masih bisa gagal.

Inggris Raya adalah pasar ekspor terbesar ketiga Kanada setelah AS dan China. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, Kanada telah mengekspor C$ 14 miliar (US$10,7 miliar) ekspor barang dagangan ke Inggris, sementara itu mengimpor C$6,9 miliar.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pekan lalu mengatakan kedua negara dapat menyelesaikan negosiasi kesepakatan perdagangan baru pada 1 Januari.

“Saya tahu bahwa berjuang dan mendemonstrasikan kesepakatan perdagangan bebas itu penting bagi pemerintah Inggris. Kanada sangat mudah. Kami siap membantu. Kami ingin melakukannya, jadi saya sangat berharap ini akan selesai tetapi itu terserah pemerintah Inggris," kata Trudeau minggu lalu dalam acara online yang diselenggarakan oleh Financial Times.

Kesepakatan Kanada akan menjadi kesepakatan perdagangan besar kedua yang diumumkan oleh Inggris dalam waktu kurang dari sebulan, setelah kesepakatan dengan Jepang pada akhir Oktober. Sementara itu, negosiasi perdagangan sedang berlangsung dengan negara-negara termasuk Australia, Selandia Baru dan AS.

Inggris masih perlu membatalkan 14 perjanjian UE lainnya pada 1 Januari untuk menghindari gagal bayar dalam persyaratan WTO, termasuk dengan negara-negara seperti Meksiko, Turki dan Singapura - perjanjian yang mencakup sekitar 60 miliar pound perdagangan dengan Inggris.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kanada inggris Perjanjian Dagang

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top