Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemilu AS Bergejolak dan Eropa Lockdown Lagi, Saham Asia Kini Jadi Safe Haven

Dilansir Bloomberg, GAM Investment Management, Robeco Hong Kong Ltd. dan Nordea Investment Funds SA melihat bahwa saham regional akan memperpanjang perolehan bulan Oktober, terlepas dari siapa yang memenangkan pemilu nanti.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 31 Oktober 2020  |  09:14 WIB
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Infeksi virus corona yang mulai melambat dan optimisme atas pemulihan ekonomi China, meningkatkan daya tarik saham Asia bagi beberapa money manager, karena volatilitas di pasar global melonjak menjelang pemungutan suara AS pekan depan.

Dilansir Bloomberg, GAM Investment Management, Robeco Hong Kong Ltd. dan Nordea Investment Funds SA melihat bahwa saham regional akan memperpanjang perolehan bulan Oktober, terlepas dari siapa yang memenangkan pemilu nanti.

MSCI Asia Pacific Index telah mengalahkan MSCI All-Country World Index dengan capaian paling tinggi sejak 2008, berkat reli saham teknologi China seperti Tencent Holdings Ltd. dan Alibaba Group Holding Ltd.

Kasus Covid-19 harian terbaru di Asia Pasifik telah turun sekitar sepertiga dari bulan lalu, sementara AS dan sebagian Eropa mengalami peningkatan rekor dalam beberapa hari terakhir.

Pada saat yang sama, ekonomi China telah mendapatkan kembali kekuatannya dari kinerja yang lemah di paruh pertama 2020, meningkatkan prospek pertumbuhan di kawasan itu. Sebaliknya, Jerman dan Prancis telah kembali ke lockdown, membuat saham Eropa mengalami penurunan tajam.

“Asia menjadi tempat berlindung yang ama karena pandemi telah memburuk di kawasan lain, dan China mulai pulih," kata Jian Shi Cortesi, manajer dana di GAM Zurich, yang mengelola aset senilai US$131 miliar, seperti dikutip melalui Bloomberg, Sabtu (31/10).

Dua faktor utama yang mendorong pasar saat ini, yaitu ketidakpastian pemilu AS dan lockdown pandemi, cenderung memengaruhi AS dan Eropa lebih dari Asia.

Data ekonomi terbaru dari China menunjukkan pemulihannya dari kemerosotan pandemi semakin menunjukkan perbaikan, dengan pertumbuhan yang lebih kuat di bidang manufaktur dan belanja konsumen. Meningkatnya pendapatan perusahaan, serta tujuan China menjadi pembangkit tenaga teknologi, menawarkan katalis baru bagi pedagang di pasar saham negara yang paling tenang dalam lebih dari empat tahun.

“Pemulihan China akan mengangkat kawasan Asia melalui hubungan ekonomi dan akan sangat menguntungkan bagi Korea Selatan dan Taiwan," ujar Cortesi.

Joshua Crabb, manajer portofolio di Robeco, mengatakan saham Asia akan terus unggul karena ekonomi mulai pulih dari kerusakan yang disebabkan virus dan valuasi yang murah.

Pakar Strategi Investasi Nordea Sebastien Galy mengatakan manajer perusahaannya memandang Asia dengan positif terutama karena China sedang memulihkan diri.

Meski demikian, kebijakan pandemi yang lebih keras di Eropa dapat meredam prospek pemulihan beberapa negara Asia yang sangat bergantung pada ekspor, seperti China dan Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Virus Corona Covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top