Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Upaya Bisnis Indekos Ibu Kota Bertahan di Tengah Pandemi

Bisnis kos-kosan merupakan salah satu yang terpukul parah akibat pandemi. Meski demikian, sejumlah pelaku usaha tetap optimistis bisa melewati pandemi lewat kebiasaan 3M.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  20:31 WIB
Ilustrasi bisnis kos-kosan di Jakarta Selatan  -  Bisnis/Herdanang
Ilustrasi bisnis kos-kosan di Jakarta Selatan - Bisnis/Herdanang

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah pesan singkat masuk ke gawai Wita sekitar 30 menit usai ia mengemas seluruh pakaian keluarganya ke dalam 4 koper dan 3 tas punggung.

“Segera siapkan barang bawaannya, 20 menitan lagi aku sampai,” demikian bunyi pesan tersebut, dikirim oleh Abi, suami Wita yang sedang memperbaiki mobilnya di sebuah bengkel.

Wita dan Abi memutuskan pindah dari bangunan kontrakan yang mereka tempati di daerah Ragunan, Jakarta Selatan sejak tiga tahun terakhir.

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan Abi harus dirumahkan sehingga membuat keluarga tersebut harus migrasi sementara ke rumah orang tua mereka di Bogor demi menghemat biaya hidup.

“Berat, karena sudah nyaman di kontrakan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi,” ujar Wita ketika dihubungi Bisnis lewat pesan singkat.

Perasaan berat tak cuma dirasakan Wita dan Abi, tapi juga Dede. 

Dede adalah pemilik bangunan kontrakan yang ditempati keluarga tersebut. Bagi dia, Wita dan Abi sudah seperti keluarga sendiri.

“Sebenarnya sudah saya tawari bayar semampunya dulu saja, tapi mereka merasa enggak enak. Tetap mau pindah,” ujar Dede.

Beban batin itu seolah menyempurnakan kegundahan Dede yang juga tengah pusing akibat anjloknya pemasukan ekonomi.

Dede total memiliki 14 bangunan sewa yang tersebar di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Dalam beberapa bulan terakhir lebih dari setengah keluarga penghuni bisnis kontrakannya yang menghentikan sewa.

Bila dalam sebulan biasanya Dede bisa meraup pemasukan kotor sekitar Rp40 juta, bulan ini ia memperkirakan pemasukan kotornya tak akan lebih dari Rp20 juta.

“Kurangnya sekitar 50 persen,” kata dia menegaskan.

Kemerosotan pemasukan ini di sisi lain membuat laba bersihnya semakin tertekan. Pasalnya, Dede masih harus merogoh kocek untuk biaya operasional dan perawatan bangunan- bangunannya, termasuk untuk menjaga rumah kontrakan yang sedang kosong.

Untuk biaya perawatan, Dede biasanya bisa mengeluarkan uang sekitar 30-70 persen dari laba kotor.

“Umumnya kalau ada yang pergi pasti nggak sampai seminggu tempat kosong itu langsung ada yang isi. Belakangan sejak kasus corona muncul, susah terisi padahal sudah lewat dari seminggu,” kata dia.

Dede tidak sendirian. Wiseno, pemilik rumah indekos berisi 12 kamar di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan mengeluhkan hal serupa.

Beberapa bulan terakhir kamar-kamarnya tak terisi penuh. Kata Seno, seperti halnya yang dialami Dede, banyak penghuni kosnya memutuskan pulang ke kampung halaman masing-masing karena ketidakjelasan pekerjaan di ibu kota.

Dari bisnis indekos itu, Wiseno biasanya meraup pemasukan kotor sekitar Rp16 juta per bulan. Tetapi, dengan asumsi saat ini dia mengkalkulasi pemasukan kotornya akan di bawah Rp10 juta.

Padahal, Seno juga masih harus keluar duit tambahan untuk membayar biaya listrik, PAM, hingga keperluan dapur.

“Kalau ada kerusakan di bangunannya, dan itu sering terjadi, apes-apesnya bisa kepotong setengahnya [dari pemasukan kotor],” sambung Seno.

Meski mengaku menderita secara finansial, Wiseno sendiri meyakini pandemi Covid-19 akan berakhir, cepat atau lambat. Dia juga percaya bahwa dengan penerapan budaya 3M, yakni menjaga jarak aman, memakai masker, dan mencuci tangan angka persebaran kasus bisa terus ditekan.

"Karena istilahnya wabah seperti ini kan sebelumnya sudah pernah terjadi juga. Kalau generasi sebelumnya saja bisa melewati, kenapa kita tidak?" katanya.

Sampai sekarang, cara Wiseno bertahan secara finansial adalah dengan mengurangi beban pengeluaran di bisnisnya.

Hal senada diutarakan Dede. Dia yakin dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang disiplin, pandemi bisa berlalu.

"Sekarang yang terpenting keselamatan dulu. Urusan rezeki sudah ada yang atur," sambungnya.

Dede cukup optimistis lantaran angka kasus pun--menurutnya--sudah mulai menurun. Per Jumat (30/10/2020), jumlah penambahan kasus harian Covid-19 berkurang jadi 2.897 saja. Di saat bersamaan, pasien sembuh mengalami pertambahan 4.517.

Saat ini, di Indonesia kasus kumulatif menembus 406.945, namun kasus sembuh telah meningkat lagi jadi 334.295.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, saat konferensi daring Jumat (30/10/2020) berkata saat ini pemerintah mengutamakan 3 langkah prioritas, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.

"Ketiga arahan presiden itu, yaitu penurunan kasus baru, peningkatan kasus sembuh serta penurunan kematian. Sementara itu, arah kebijakan RPJMN Kemenkes 2020-2024 adalah meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama pelayanan kesehatan dasar," kata Terawan.

Kini Dede, di lain tempat, hanya bisa berharap langkah yang ditempuh pemerintah itu membuahkan hasil. 

"Semoga ini pertanda bagus, dan konsistensinya bisa terus terjaga."

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah kos Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top