Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Panas! Dubes China Merespon Balik Pidato Menlu AS Soal Muslim Uighur di Xinjiang

Pemerintah China menyampaikan klarifikasi terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Richard Pompeo yang menyebut Partai Komunis China merupakan ancaman bagi kebebasan umat beragama, termasuk di antaranya komunitas Muslim Uighur di Xinjiang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  10:06 WIB
Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian memberikan penjelasan pada peluncuran forum Standard Chartered CEO Connect dengan mengusung topik Connecting  Indonesia and China throught the Belt & Road Initiative di Jakarta, Selasa (19/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian memberikan penjelasan pada peluncuran forum Standard Chartered CEO Connect dengan mengusung topik Connecting Indonesia and China throught the Belt & Road Initiative di Jakarta, Selasa (19/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pidato Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Richard Pompeo yang menyebut Partai Komunis China merupakan ancaman bagi kebebasan umat beragama, termasuk di antaranya komunitas Muslim Uighur di Xinjiang, dalam pertemuan dengan GP Ansor menuai respon dari pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pemerintah China menyampaikan klarifikasi terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Richard Pompeo yang menyebut Partai Komunis China merupakan ancaman bagi kebebasan umat beragama, termasuk di antaranya komunitas Muslim Uighur di Xinjiang.

"Konstitusi Tiongkok melindungi kebebasan beragama segenap warganya, juga hak-hak sah dari semua etnik minoritas. Hak asasi rakyat semua etnik di Xinjiang sepenuhnya terjamin," kata Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian, lewat pernyataan tertulis, yang disiarkan di laman resmi Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia, Kamis (29/10/2020).

Pompeo, saat melawat ke Indonesia, menemui Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Jakarta, Kamis(29/10/2020). GP Ansor merupakan badan otonom yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Pompeo menyebut tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan perbuatan Pemerintah China di Xinjiang.

"Tidak ada pembenaran atas pengurangan kemiskinan dengan memaksa sterilisasi atau mengambil anak-anak dari orang tua mereka untuk diajar kembali di sekolah asrama yang dijalankan oleh negara," kata Pompeo di hadapan anggota GP Ansor. Pernyataan Pompeo itu merujuk pada kamp-kamp pelatihan yang dibuat oleh Pemerintah China untuk masyarakat etnis Uighur.

"Ancaman terbesar bagi masa depan kebebasan beragama adalah perang Partai Komunis China terhadap orang-orang dari umat mana pun, Muslim, Buddha, Kristen, juga praktisi Falun Gong," sebut Pompeo dalam acara yang sama.

Tidak lama setelah pertemuan antara Pompeo dan GP Ansor, Dubes Xiao Qian menegaskan bahwa China merupakan sahabat tulus bagi dunia Muslim.

"[Kami] Senantiasa teguh mendukung perjuangan adil rakyat Palestina," kata kepala perwakilan China di Indonesia.

"Sebaliknya, Pemerintah AS justru menerbitkan Muslim Ban [larangan bagi Muslim untuk masuk AS], mengabaikan hak dan kepentingan legal Palestina dalam konflik dengan Israel, membangkitkan revolusi berwarna di sejumlah negara Muslim, meluncurkan perang proksi, dan bahkan melakukan serangan langsung terhadap negara lain," ujar Dubes Xiao.

Dia melanjutkan kebijakan luar negeri AS justru jadi penyebab ketidakstabilan, konflik, perpecahan, dan "penderitaan berkepanjangan bagi dunia Muslim".

Terkait isu di Xinjiang, seorang pengurus Nahdlatul Ulama mengatakan banyak informasi mengenai keadaan masyarakat Muslim Uighur bias karena terjebak oleh konflik AS dan China. Menurut dia, seluruh pihak, salah satunya masyarakat Muslim di Indonesia, membutuhkan akses informasi yang independen dan bebas dari konflik kepentingan.

"Yang kita butuhkan sekarang adalah akses terhadap informasi yang faktual, dan kami menuntut semua pihak, Amerika maupun China, untuk jujur dalam hal ini," kata Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, Kamis (29/10/2020).

Dia menekankan NU tidak akan diam jika ada bukti pelanggaran HAM terhadap masyarakat Muslim Uighur di Xinjiang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china menlu as xinjiang

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top