Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Komnas HAM: 18 Kasus Lengkapi Kasus Kematian Pendeta Yeremia

Setidaknya terdapat rentetan 18 kasus sebelum terjadi kasus kematian Pendeta Yeremia di Kabupaten Intan Jaya, Papua.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 18 Oktober 2020  |  01:05 WIB
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia - Istimewa
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyebutkan sejumlah peristiwa sebelum terjadinya kasus yang menyebabkan tewasnya Pendeta Yeremia.

Komnas HAM menyebutkan kematian Pendeta Yeremia Zanambani di Kabupaten Intan Jaya, Papua, tidak berdiri sendiri. Kasus itu merupakan bagian dari rentetan peristiwa lain yang terjadi sebelumnya.

"Terkait dengan peristiwa kematian Pendeta Yeremia, Komnas HAM menemukan fakta bahwa peristiwa tersebut tidak berdiri sendiri," ujar Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam konferensi pers daring, Sabtu (17/10/2020).

Sebanyak 18 kasus yang terjadi di Intan Jaya menurut Anam melengkapi kasus kematian Pendeta Yeremia. Hal itu dilihat dari lokasi kejadian yang sama serta adanya persoalan serius dalam waktu cukup pendek.

Dari tinjauan ke lokasi, olah tempat kejadian perkara (TKP) dan permintaan keterangan saksi-saksi dan para pihak, Komnas HAM mendapatkan berbagai keterangan, bukti dan informasi pendukung semakin terangnya peristiwa tersebut.

Anam menuturkan bukti yang didapat antara lain berupa lubang peluru berbagai ukuran yang ada di lokasi penembakan.

"Komnas HAM akan mengelola seluruh data yang ada untuk menyusun kesimpulan temuan Komnas HAM yang lebih solid. Langkah tersebut juga akan diuji dengan keterangan ahli," ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Ketua Perwakilan Komnas HAM Papua dan Papua Barat Frits Bernard Ramandey mengatakan pola dan karakter rentetan kasus terkait kematian Pendeta Yeremia sama.

"Kalau kita lihat pola dan karakter kasus sama persis karena semua itu berujung pada kekerasan dan ada korban meninggal dunia baik di warga sipil mau pun aparat TNI-Polri," ucap Frits.

Ia mengatakan kasus itu membawa harapan besar dari masyarakat agar dapat terungkap dan terang benderang agar kondisi di daerah tersebut pulih kembali.

Sebelumnya, dua orang anggota TNI, satu warga sipil, dan Pendeta Yeremia Zanambani meninggal dunia setelah ditembak oleh anggota KKSB di Hitadipa, Papua.

TNI menyebut tindakan KKSB itu untuk mencari perhatian menjelang sidang utama PBB.

Kemudian Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta untuk mengungkap peristiwa kekerasan dan penembakan yang menyebabkan empat orang tewas di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

papua komnas ham intan jaya

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top