Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Epidemiolog Sindir Menko Airlangga: Belum Ada Kandidat Vaksin Efektif

Melalui akun twitter miliknya @drpriono1, dia mengatakan sampai saat ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan vaksin yang dikabarkan efektif dan aman untuk menyembuhkan virus Corona di dunia.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  09:57 WIB
Relawan dan Tenaga Kesehatan melakukan simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). Bisnis - Rachman
Relawan dan Tenaga Kesehatan melakukan simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Ahli Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mempertanyakan tingkat efektivitas dan keamanan vaksin Covid-19 yang dikabarkan akan didistribusikan di Indonesia.

Melalui akun twitter miliknya @drpriono1, dia mengatakan sampai saat ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan vaksin yang dikabarkan efektif dan aman untuk menyembuhkan virus Corona di dunia.

"Pak @airlangga_hrt, kenapa tak pernah minta masukan ahli kesehatan tentang vaksinasi yang konon akan diimplementasikan di Indonesia. WHO menyatakan belum ada kandidat vaksin yang diakui efektif & aman. Kolega dari lembaga eyckman ragukan manfaat vaksin tsb. Ada bisnis apa pak?" cuit @drpriono1 seperti dikutip Bisnis, Rabu (14/10/2020).

Selain itu, dia juga mempertanyakan pihak yang bisa menjamin bahwa kandidat vaksin yang sedang diteliti Sinovac dan PT Bio Farma benar-benar aman dan efektif untuk menyembuhkan Covid-19.

"Siapa yg berani menjamin kandidat Vaksin Sinovac itu Efektif dan Aman? Jangan sekali kali memasarkan produk yg masih belum jelas manfaatnya. Belum ada bukti saintifik yg akurat @biofarmaID," imbuhnya.

Epidemiolog tersebut justru meminta pemerintah untuk melaksanakan tes, lacak, dan isolasi. Menurutnya, pengaruh 3T dan pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta mampu membuat kurva melandai selama dua minggu sehingga bisa dilonggarkan untuk masuk ke fase PSBB transisi.

Hal itu membuktikan bahwa tes, lacak, dan isolasi tetap dapat landaikan kurva pandemi.

Terakhir, dia mengingatkan Presiden Joko Wododo untuk meningkatkan kapasitas tes Covid-19 secara nasional.

"Tes Covid-19 itu sangat penting. Pak @jokowi, NKRI itu sangat lemah dan belum ada rencana upaya peningkatan tes agar bisa kendali pandemi. Penularan bisa ditekan dg TES, PELACAKAN KASUS, ISOLASI yg ADEKUAT. Perlu TES ANTIGEN yg cepat & murah untuk atasi Gap TES dengan cepat," ucap Pandu Riono.

Sebelumnya, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan 30 juta dosis vaksin Covid-19 akan diterima Indonesia pada kuartal IV/2020.

Airlangga menyebut jumlah vaksin itu berasal dari Sinovac, Sinopharm, dan Astra Zeneca. Pemerintah telah memesan 50 juta vaksin Covid-19 dari Astra Zeneca dan sekarang telah berangkat untuk pemesanan pertama.

Adapun, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan kisaran harga vaksin Covid-19 di Indonesia Rp200.000. Hal itu disampaikan untuk menanggapi pemberitaan yang menyatakan bahwa Sinovac sudah meneken kontrak pengadaan vaksin dengan Brazil dengan harga US$1,96 per dosis.

“Sinovac mengkonformasi dalam pemberitaan tentang kontrak pembelian 46 juta dosis dengan nilai kontrak US$90 juta dengan pemerintah Brazil tidak tepat dan mengenai harga US$1,96 per dosis pun tidak tepat sebab biaya pengiriman tiap dosisnya pun sekitar U$S2,” paparnya dalam siaran pers, Selasa (13/10/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin airlangga hartarto Covid-19
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top