Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kelancaran Program Food Estate Butuh Kolaborasi Banyak Pihak

Direktur Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Institute berkomitmen mengawal dan mendampingi kebijakan program food estate.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  05:10 WIB
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan "Food Estate" atau lumbung pangan baru di Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia. ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pihak menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, sebagai upaya mendorong terciptanya peningkatan ketahanan pangan di Tanah Air melalui pengembangan program food estate atau lumbung pangan.

Dwi Asmono, Direktur Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Institute berkomitmen mengawal dan mendampingi kebijakan program food estate yang dengan melakukan penelitian berkelanjutan.

"Kemudian kami juga akan mendukung dengan memberikan saran inkubasi bisnis, pelatihan dan pendampingan serta mediasi antar masyarakat terkait program percepatan tanam dan food estate," ujar Dwi, Senin (12/10/2020).

Menurutnya, dalam pengembangan food estate, harus menyiapkan banyak hal, mulai dari bibit, pemasaran, pabrik, dan lainnya semua harus dirancang dengan benar.

"Jika berhasil, hal ini akan menjadi pengungkit untuk yang lain," ujarnya.

Dwi menjelaskan, dari sisi on farm, menjadi faktor penentu produksi adalah dengan melakukan pemilihan bibit unggul, pengelolaan tanah yang baik, pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit, serta pengairan yang baik.

“Kemudian dari sisi off farm adalah bagaimana kita harus memperhatikan pasca panen sertanya serta pemasaran hasil," katanya.

Selain itu, aspek nutrisi perlu diperhatikan dengan kondisi lahan food estate. Menurutnya penggunaan magnesium dan kalsium (dolomit), bisa juga untuk meningkatkan pH lahan pasang surut di areal food estate.

"Yang harus diperhatikan, kandungan nutrisi dan magnesium di Kalimantan ini relatif rendah. Memang persoalan terlihat sederhana tetapi akan berdampak kepada produktivitas tanaman," ujarnya.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menambahkan, program food estate merupakan suatu keniscayaan yang harus di bangun dari sekarang. Apalagi, setiap tahun jumlah penduduk Indonesia meningkat 1,3 persen.

"Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kementan dalam menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia," tuturnya.

Untuk itu, dia mendorong peran BUMN dan BUMD dalam mendukung kelancaran program food estate agar berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan program food estate memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang baik.

"Kelengkapan on farm harus tersedia mulai dari benih, pupuk, pestisida, traktor roda 4. Selain itu dukungan dari teknologi modern sudah harus diterapkan," katanya.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy, mengatakan bahwa memang terdapat sejumlah kunci untuk meningkatkan produksi pertanian termasuk di food estate, yakni ketersediaan air, benih berkualitas, dan pupuk yang tepat.

“Kemudian pompanisasi dan pipanisasi, serta pengadaan alsintan, dan memfasilitasi petani agar bisa membawa hasil panennya untuk dijual," ujarnya.

Menurut Sarwo, Kementan juga berupaya mengubah cara bertani tradisional ke modern dengan teknologi yang sudah ada sehingga produktivitas diharapkan bisa meningkat dan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kami sudah siapkan alsintan traktor roda 2 dan 4 untuk mengolah lahan. Kegiatan penanaman telah disiapkan mesin transplanter. Kemudian ada combine harvester untuk membantu petani saat panen, termasuk memberi bantuan RMU dan dryer," kata dia.

Sarwo juga mendorong petani tidak lagi menjual gabah, tetapi digiling dahulu dan diproses menjadi beras dengan packaging yang menarik untuk menaikkan pendapatan petani

Adapun potensi lahan pengembangan food estate di Kalimantan Tengah seluas 164.598 ha, terdiri dari lahan fungsional atau intensifikasi seluas 85.456 ha dan lahan sisa fungsional atau ekstensifikasi 79.142 ha.

Sedangkan, lahan yang akan digarap pada 2020 adalah seluas 30.000 ha, dan tersebar di Kabupaten Kapuas seluas 20.000 ha dan Kabupaten Pulang Pisau 10.000 ha.

Pada lahan itu pemerintah melakukan intensifikasi pada lahan-lahan yang selama ini berupa semak belukar.

Dia berharap lahan yang produktivitasnya saat ini yang masih di bawah 4 ton gabah kering panen (GKP) per ha, bisa ditingkatkan menjadi 6 ton/ha.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementan food estate
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top