Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inggris Pastikan Hadapi Gelombang Kedua Serangan Covid-19

Inggris kemungkinan akan melakukan pembatasan dengan sistem baru di seluruh wilayah negara itu untuk menghadapi serangan pandemi Covid-19.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 20 September 2020  |  12:25 WIB
Pejalan kaki di trotoar Oxford Street, pusat kota London -  Bloomberg / Simon Dawson
Pejalan kaki di trotoar Oxford Street, pusat kota London - Bloomberg / Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengungkapkan gelombang kedua infeksi virus Corona tidak dapat terelakan lagi, di tengah upaya keras menghindari penguncian nasional kedua.

Menurutnya, pemerintah kemungkinan akan melakukan pembatasan dengan sistem baru di seluruh wilayah negara itu untuk menghadapi serangan pandemi Covid-19.

Kasus Covid-19 baru naik hampir dua kali lipat menjadi 6.000 sehari. Sedangkan penerimaan pasien di rumah sakit terus meningkat dan tingkat infeksi melonjak di seluruh bagian utara Inggris dan London.

"Kami sekarang melihat gelombang kedua datang. Saya khawatir, tak terhindarkan, bahwa kita akan mengalaminya di negara ini," kata Johnson seperti dikutip dari Aljazeera.

Peningkatan tajam dalam jumlah kasus di negara itu membuat pemerintah perlu terus melakukan evaluasi dan tidak mengesampingkan tindakan lebih lanjut yang akan dilakukan.

"Saya sama sekali tidak ingin melakukan penguncian nasional kedua. Ketika Anda melihat apa yang terjadi, Anda pasti bertanya-tanya apakah kita perlu melangkah lebih jauh," ujarnya.

Inggris telah melaporkan lebih dari 384.000 kasus virus Corona dengan 41.794 kematian, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Komentar Johnson muncul di tengah meningkatnya spekulasi bahwa pemerintah akan mengumumkan pembatasan baru di sektor perhotelan, seperti pub dan restoran, yang berpotensi melibatkan jam malam. Langkah itu sudah ada di daerah yang menghadapi pembatasan penguncian ekstra.

Tanpa menjelaskan secara spesifik, Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan negara itu harus "bersatu" selama beberapa minggu mendatang untuk mengatasi lonjakan tersebut.

Dia mengatakan penularan baru sebagian besar terjadi di lingkungan sosial. Selain itu, virus itu telah menyebabkan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit naik dua kali lipat setiap tujuh hingga delapan hari.

Pengkritik mengatakan pemerintah telah kehilangan kendali atas virus, sebagian sebagai akibat rendahnya pemeriksaan dan itulah mengapa langkah-langkah baru sedang diperkenalkan.

Sejak seminggu ini, larangan pertemuan sosial lebih dari enam orang, termasuk anak-anak, diberlakukan di Inggris.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top