Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Politikus PDIP Edo Kondologit Marah Akibat Ipar Meninggal Diduga Disiksa

“Cukup sudah bermain sandiwara di negeri ini. Saya sudah cukup sakit hati melihat ketidakadilan di negeri ini. Kita menuntut keadilan. Keluarga akan proses ini,” kata Edo.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  05:22 WIB
Penyanyi  Edo Kondologit membawakan lagu 'Pangkur Sagu', di depan sekitar 1.300 penonton saat konser  The Symphony of Friendship di Opera House, Wellington Selandia Baru, Jumat (9/11)./JIBI - BISNIS/Arif Budisusilo
Penyanyi Edo Kondologit membawakan lagu 'Pangkur Sagu', di depan sekitar 1.300 penonton saat konser The Symphony of Friendship di Opera House, Wellington Selandia Baru, Jumat (9/11)./JIBI - BISNIS/Arif Budisusilo

Bisnis.com, JAKARTA - Musisi sekaligus politikus PDIP Edo Kondologit mengutarakan kemarahannya setelah iparnya tewas di Polres Sorong, Papua Barat.

Kemarahan Edo tersebar di media sosial termasuk dibagikan oleh aktivis Veronika Koman di akun Twitternya, Minggu (30/8/2020). Edo mengaku sakit hati kepada Polres Sorong akibat iparnya tewas.

“Cukup sudah bermain sandiwara di negeri ini. Saya sudah cukup sakit hati melihat ketidakadilan di negeri ini. Kita menuntut keadilan. Keluarga akan proses ini,” katanya dalam cuplikan video itu.

Kemarahan Edo diluapkannya ketika iparnya bernama George Karel Rumbino alias Riko meninggal kurang dari 24 jam setelah diserahkan ke Polres Sorong oleh Keluarga.

Keluarga menyerahkan Riko ke Polres setelah dia diduga terlibat dalam perampokan dan pembunuhan seorang perempuan di Pulau Doom, Sorong, Papua Barat pada 26 Agustus 2020.

Sehari berselang Riko di bawa ke Polres Sorong. Namun, keesokan harinya, keluarga menerima kabar bahwa Riko sudah meninggal. Dari foto yang diunggah Veronika Koman terlihat jasad Riko penuh luka di kaki kiri dan kanan. Diduga bekas tembakan.

“Kita akan masukkan laporan ke Propam agar kasus ini diusut secara tuntas, kita serahkan anak kita baik-baik [ke polisi]. Belum sampai 24 jam sudah mati. Kita menuntut keadilan.”

“Ini negara hukum, azas praduga tak bersalah. Seorang yang dinyatakan bersalah hanya oleh keputusan pengadilan, bukan polisi yang menentukan,” katanya dalam video tersebut.

Hingga kini Polda Papua Barat masih mendalami dan mengusut kasus dugaan penganiayaan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pdip papua
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top