Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Corona Masih Tinggi, Ekonomi Korea Selatan Diprediksi Minus 1,3 Persen

Bank of Korea mengatakan ketidakpastian masih sangat tinggi dan dewan akan menjaga kebijakan akomodatif karena pandemi mengurangi tekanan inflasi sisi permintaan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  10:26 WIB
Istana Changdeok, Korea Selatan ditutup karena pandemi virus corona. Bank of Korea baru saja menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari minus 0,2 persen menjadi minus 1,3 persen.  - Visit Korea
Istana Changdeok, Korea Selatan ditutup karena pandemi virus corona. Bank of Korea baru saja menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari minus 0,2 persen menjadi minus 1,3 persen. - Visit Korea

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Korea Selatan atau Bank of Korea memangkas perkiraan pertumbuha ekonomi dan menahan tingkat suku bunga pada rekor terendah di tengah peningkatan kasus infeksi baru virus corona (Covid-19).

Bank of Korea mempertahankan tingkat suku bunga pada level 0,5 persen, keputusan yang diprediksi oleh 22 analis yang disurvei oleh Bloomberg.

Bank sentral kini memperkirakan ekonomi menyusut 1,3 persen tahun ini, jauh lebih dalam dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya pada Mei 2020 sebesar 0,2 persen.

Dalam pernyataan yang dirilis setelah keputusan tersebut, bank sentral mengatakan ketidakpastian masih sangat tinggi dan dewan akan menjaga kebijakan akomodatif karena pandemi mengurangi tekanan inflasi sisi permintaan.

Dalam perkiraan yang diperbarui, bank melihat inflasi naik sedikit menjadi 0,4 persen, dari sebelumnya 0,3 persen.

Langkah Bank of Korea dalam menahan suku bunga  menggarisbawahi tindakan penyeimbangan yang dihadapi bank sentral. Bank of Korea tetap berhati-hati dalam menambahkan stimulus yang dapat mendorong keuntungan properti lebih lanjut sementara dampak ekonomi dari gelombang virus terbaru menjadi jelas.

Korea Selatan melaporkan 441 kasus virus corona baru pada hari ini, peningkatan harian terbesar sejak Maret.

"Pemotongan perkiraan pertumbuhan menunjukkan penurunan permintaan. Peningkatan proyeksi inflasi, bagaimanapun, mencerminkan kenaikan harga bertahap di antara faktor-faktor sisi penawaran seperti komoditas dan minyak setelah beberapa penurunan ekstrim awal tahun ini," kata An Young-jin, ekonom di SK Securities, dilansir Bloomberg, Kamis (27/8/2020).

Imbal hasil obligasi 10 tahun Korea Selatan turun 3 basis poin menjadi 1,38 persen pada 10:40 pagi di Seoul. Won sedikit berubah pada 1.186,40 per dolar AS.

Sepanjang tahun ini, Bank of Korea telah memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin untuk menumpulkan dampak pandemi. Langkah tersebut juga diambil untuk memasok likuiditas dan membeli obligasi untuk menstabilkan pasar. 

Namun, gejolak virus di dalam negeri dan di mitra dagang utamanya, dikombinasikan dengan banjir yang melanda sebagian Korea Selatan mendorong para ekonom menurunkan proyeksinya.

Bank sentral melihat suku bunga saat ini mendekati batas bawah efektif. Bank juga mendapat kecaman dari beberapa anggota parlemen karena menyediakan likuiditas yang telah memperburuk gelembung properti di beberapa bagian negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea selatan covid-19
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top